Tiga Hari Dua Gunung Penuh Keberuntungan



Lewat dua minggu sejak lebaran dan perjalanan. But still, Selamat Lebaran teman-teman semua. Mohon maaf lahir dan batin yaa :*

Meskipun tidak merayakan, lebaran selalu jadi saat yang menyenangkan. Bukan hanya bagi umat muslim di seluruh dunia yang merayakan, tapi juga buat manusia-manusia disekitarnya, apalagi yang hidup di Indonesia. Suasananya, damainya, toleransinya, dan nggak ketinggalan tanggal merah-nya. Horey!!

Sebenarnya tidak ada niat liburan pada lebaran tahun ini. Niatnya "ya sudah, jaga kantor aja". So, ini perjalanan dadakan setelah sadar ada hari kecepit nasional. Halah mesti!

 

Kok nggak ngajak-ngajak se, Gem?

Maaf lo, rek. Spontaneity is my middle name. Heh, bukan alasan itu. Memang hampir setiap perjalanan selalu dadakan dan sendirian. Saya kadang bingung saat ditanya "next, kamu mau kemana?" karena memang nggak pernah punya rencana. Saya pergi saat Saya ingin pergi dan merasa bisa pergi, dan selalu tiba-tiba. Lalu, prepare maksimal dalam tempo sesingkat-singkatnya. Nah, itu juga kenapa Saya lebih suka pergi sendiri. Orang spontan itu kadang merepotkan, ya kan? Beli ini itu, pesen ini itu, pasti pusing kalau nggak sama-sama gila-nya. Ciyee, klarifikasi ^^

Ini ceritanya panjang sekali li li li, mudah-mudahan pada mau baca sampai selesai. Tiga hari dua gunung. Agak edan tapi pasti maklum kalau kita sama-sama buruh fakir cuti. Jadi kira-kira begini, liburan Saya mulai dengan :

 Ngapelin Si Ganteng, Merapi.

Merapi sudah Saya taksir sejak Agustus tahun lalu. Saat itu Saya sedang mendaki Gunung Merbabu. Merapi seperti berdiri gagah tepat didepannya, mengundang untuk segera didaki. Haruskah Saya mulai cerita dengan biografi Gunung Merapi? Nope. Google pasti bisa jelaskan jauh lebih lengkap.

Perjalanan dimulai pada lebaran hari pertama. Setelah seharian pergi bersilaturahmi dengan kolega, pukul 6 sore Saya berangkat ke Terminal Purabaya (Bungurasih). Kira-kira seperti ini itinerary Saya :
  • Surabaya - Boyolali via BUS EKA jurusan Surabaya - Solo - Semarang (hampir selalu ada 24 jam), turun di terminal Boyolali. Tarifnya Rp 127.000,- (termasuk sekali makan) dengan lama perjalanan 6-7 jam. Berangkat jam 8 malam.
  • Terlalu pagi Saya sampai, jam 2 dini hari. Transit 3 jam di alfamart, menunggu bis ke Pasar Cepogo
  • Terminal Boyolali - Pasar Cepogo via Mini Bus jurusan Pasar Cepogo. Tarifnya Rp 8.000,- waktu tempuh satu jam.
  • Pasar Cepogo - New Selo via ojek Pak Suparno, 20 menit, tarifnya Rp 25.000,- (alternatif lainnya bisa naik bus jurusan Cepogo - Selo, Rp 10.000,-)
Jika sendirian seperti Saya, maka harus banyak-banyak baca blog atau referensi agar tidak tersesat dijalan. Jangan sungkan bertanya pada "tuan rumah", tapi harus tetap waspada. Paket data jangan lupa diisi dan bawa uang secukupnya. Oiya, banyak berdoa.

 
 

Saya sampai di Selo sekitar jam 7 pagi. Mencari tempat makan terdekat dan membersihkan diri. Saya perlu mencari beberapa perlengkapan sebelum mendaki. Niatnya, Saya akan naik pada sore/malam hari, summit, dan langsung turun (tektok). Saya cuma bawa daypack isinya sleeping bag, baju ganti, peralatan mendaki (senter, gunting, tali, dll), perlengkapan pribadi (kaos kaki, obat, dll), dan kamera.

Saya bertemu seorang teman asal Bontang di warung makan. Sergian, seorang couchsurfing yang ternyata punya rencana sama seperti Saya. Setelah banyak bertukar informasi, kami sepakat mendaki bersama. Tidak mengejar terbit matahari, mungkin senja saja cukup lalu kami turun lagi. 
 
 

Pos pendakian (basecamp) di New Selo sepi, daftar pendaki bisa dihitung dengan jari. Kami mulai mendaki setelah mengurus administrasi, kira-kira jam 10 pagi.

Sebagaimana baru pertama kali kenal, Saya dan Sergian banyak cerita sepanjang perjalanan. Semakin semarak saat bertemu dengan dua mahasiswa UGM yang sedang KKN disekitar sana. Saya lupa nama mereka, lupa juga dengan medan pendakian yang ternyata cukup panjang. Highlight-nya seperti ini :
  • Basecamp ke Gerbang TNGM, 1 jam. Medannya kering berdebu, melewati jalan setapak, perkebunan warga, hingga jalan tanah berbatu. Pemanasan yang literally panas. Saya istirahat beberapa saat dan bertemu dengan 9 pendaki lain yang sudah berjalan lebih dulu.
  • Gerbang TNGM ke Pos I (Watu Belah), 1 jam. Sudah mulai masuk hutan, jalan berbatu dan full tanjakan. Senang sekali bertemu beberapa pendaki yang baru turun, mereka rata-rata sudah berusia 60-70 tahun. Mereka impressive!. "Hati-hati, kalian pasti bisa sampai atas, kita aja bisa!", katanya sambil pamer foto-foto puncak Merapi. Membakar semangat Saya.
  • Pos I ke Pos II, 1,5 jam. Berdarah-darah. Hehe, lebay. Perjalanan disambut batu-batu besar yang terjal. Kini tidak lagi berjalan, agak climbing ya. Meski tidak jaraknya tidak sejauh pos sebelumnya, tapi cukup menguras tenaga. Jackpot!
  • Pos II ke Pasar Bubrah, 1,5 jam. Pasar Bubrah adalah pos terakhir, lokasi yang biasa digunakan untuk mendirikan tenda. Relatif lebih landai dibandingkan perjalanan pos sebelumnya. Saat melewati batas akhir vegetasi medan perjalanan mengingatkan Saya pada Mahameru, berpasir - kerikil dan berbatu.
Quote
Pertama kali ketemu
 





70 tahun dan masih naik gunung

 
 





 
Sepekan terakhir mengamati BMKG, kawasan TNGM hampir tidak pernah terindikasi cerah. Sungguh beruntung kami merasakan terik matahari. Hanya saja, angin begitu kencang hingga agak riskan bagi Saya untuk melanjutkan perjalanan. Sebenarnya 50% karena angin, 50% karena bujukan 10 orang kawan perjalanan. Kami semua sampai di Pasar Bubrah sekitar jam 3 sore. Angin luar biasa kencangnya. Berbagai pertimbangan akhirnya membuat Saya memutuskan untuk stay hingga pagi. Tanpa bawa tenda, tanpa makanan juga (jangan ditiru ya).

Full Team Stranger(s)
Yudha dan Yudho, anak rantau dari Jambi. Pak Joko (dari Pontianak), Sergian (dari Bontang) dan Emphi (dari Jakarta), masing-masing sama dengan Saya, Solo Traveller. Rizal, Ridwan, dan Ogenk dari Salatiga dan Jakarta. Egi (Malang) dan Olvi (NTT), pasangan romantis yang sukses bikin baper sepanjang pendakian. Mereka semua dan Saya. Hanya kami bersebelas yang ada diatas. Tidak saling kenal sebelumnya. Pada awalnya hanya menyapa, obrolan sederhana, lalu bercanda. Kemudian tukar cerita, berbagi makanan dan tenda. Dari gerbang selamat datang, bersama-sama ke summit hingga pulang. Bagian yang menurut Saya paling berkesan dari perjalanan. Hari penuh keberuntungan dan panen teman.

 
 
Cuma Saya dan Kak Olvi saja pendaki Wanitanya

 

Masak Opor Ayam

Selamat Lebaran

Menuju Puncak

Setelah seharian berjalan, kami berhenti. Foto-foto, makan opor ayam, main kartu, hingga ketiduran. Angin kencang dan dingin hingga menembus ke tulang. Beneran ini! Jam 4.30 pagi kami siap lanjut mendaki sampai puncak Merapi. Bersepuluh saja, Sergian ingin beristirahat di tenda.

Rasanya Mahameru diulang kembali. Pasir kerikil, satu langkah naik, lalu merosot lagi. Tidak separah itu, tapi tetap saja menguras tenaga. Untung tidak sepanjang Mahameru. Satu jam pendakian ditemani angin kencang. Tapi seperti biasa, matahari terbit dan segala capek sirna. Tidak begitu lama kemudian kami sampai di Puncak Merapi. Gunung setinggi 2.930 mdpl yang Ganteng sekali. Bolehkah Saya tidak menjelaskan, hanya tolong nikmati saja fotonya. Saya bahkan masih deg-degan saat menceritakan :)

 

 


  


 


  

Puas menikmati puncak, kami turun untuk sarapan dan membereskan segala perlengkapan. Kami turun bersama. Butuh waktu sekitar 2,5 – 3 jam untuk turun dengan medan yang cukup menyakitkan kaki. Kami sampai di New Selo sekitar jam 2 siang lalu berpisah dan melanjutkan perjalanan masing-masing. Terima kasih, Dulur Merapi. Akan sulit melupakan cerita mengesankan kita seharian :)

Mampir Sebentar di Ungaran

Turun dari Merapi, pegel sekali badan, tangan, sampai kaki. Tapi Saya belum berencana pulang, nanggung libur yang masih cukup panjang jadi Saya mampir sebentar di Semarang. Kali ini sangat terbantu dengan teman-teman baru Saya.

Saya benar-benar merasa beruntung. Bermodal helm 50ribuan, Saya diantarkan teman-teman (Rizal, Ridwan, Ogenk, dan Emphi) yang ternyata punya tujuan searah. Lalu lintas saat itu sangat padat, tidak memungkinkan bus jalan cepat. Tiga jam saja dari Selo, Boyolali, Saya berpindah ke Kabupaten Ungaran.

Ungaran memang lebih ngetop dengan Bakso Tahu daripada Gunungnya. Mungkin juga lebih dikenal dengan Candi Gedhong Songo, Umbul Sidomukti tempat ngopi, atau tempat wisata Paralayang dan rekreasi. Saya sendiri tertarik karena dari google terlihat epic

Itinerary Pendakian Gunung Ungaran :

  • Teman-teman mengantar Saya sampai Pos Pendakian. Karcis masuk Rp 2.000 per motor (jika hanya mengantar). Dari 3 jalur pendakian Gunung Ungaran, hanya Jalur Jimbaran (diatas Umbul Sidomukti) yang masih digunakan. Tiba di basecamp Mawar sekitar jam 7 malam. Makan, mandi, lalu tidur sampai menjelang pagi. Harga tiket pendakian Rp 5.000,-/orang dan wajib melakukan registrasi sebelum mendaki.
  • Saya mulai pendakian jam 4 pagi, tanpa bermaksud mengejar sunrise. Lama perjalanan dari basecamp ke Pos I sekitar 30 menit dengan medan yang landai.
  • Pos I menuju Pos II juga tidak begitu melelahkan, 30 menit perjalanan. Jika sudah menemukan sumber air, berarti pos hanya tinggal beberapa langkah saja. Saya berhenti sejenak untuk menikmati matahari terbit yang agak tertutup pepohonan.
  • Pos II ke Pos Bukaan, jarak perjalanan cukup panjang tapi penuh dengan spot-spot menarik. Medan berganti dari hutan menjadi kawasan perkebunan kopi dengan beberapa pemukiman warga, lengkap dengan warung kopinya. Disini terdapat sumber air yang ditampung pada bak dan bisa diminum. Selain itu, kita juga akan melewati perkebunan teh yang indah dan Goa Jepang. Perjalanan Sekitar 1 jam.
  • Pos Bukaan adalah pos terakhir, jalan landai juga berakhir disini. Selanjutnya mendaki gunung baru benar-benar dimulai. Sepanjang 2 jam pendakian hingga Saya sampai di Puncak 2.050mdpl Gunung Ungaran. Pemandangan indah akan banyak kita jumpai dalam perjalanan. Lagi-lagi disambut cuaca sangat cerah. Setelah puas menikmati puncak, Saya bergegas turun. Total 4 jam perjalanan naik dan 2 jam perjalanan turun.
    Karena masih gelap saat berangkat, beberapa foto dibawah ini Saya ambil setelah turun. Maaf ya agak random.
     



















Summit!





Padatnya jalan disekitar Ungaran membuat Saya harus rela tidak mampir ke Candi Gedhong Songo. Nggak papa, mungkin lain kali ya. Hari ketiga, Gunung kedua, semuanya sudah. Gemilang sudah ditunggu Iyang, sekarang sudah waktunya pulang.
 

Bagaimana caranya pulang?

Naik ojek dari basecamp Mawar sampai ke pertigaan gapura Sidomukti, harganya Rp 15.000,- (bisa dinego)

Dari pertigaan, naik Minibus jurusan terminal Terboyo atau naik angkot berwarna hijau terlebih dahulu. Tarifnya Rp 20.000,-

Jika pulang ke Surabaya seperti Saya, lanjutkan dengan naik Bus Sinar Mandiri jurusan Semarang - Surabaya (gambar Panda), tarifnya Rp 120.000,-
­Bertemu banyak teman dan keberuntungan membuat liburan Lebaran Saya tahun ini jadi sangat berkesan. Terima kasih sudah dibaca, maaf ceritanya puanjaaaang. Semoga bermanfaat!