Cerita Perjalanan Sepuluh Hari di Nepal, Sendirian : Daftar Makanan


Food becomes a part of travel, even when you least expect it ~katanya sih gitu. Bagi sebagian orang memang belum lengkap rasanya travelling tanpa mencoba kuliner baru. Bahkan banyak juga yang tujuan perjalanannya justru culinary tourism. 

Saya (belum) termasuk aliran itu.

Meskipun bantet begini, sebenarnya dari kecil Saya nggak terlalu hobi makan. Nggak doyan nasi, daging, santan, dan manis-manis, kadang jadi terasa picky dan menyebalkan. Tapi lain cerita kalau travelling atau diajakin teman, mau makan apapun - dimanapun - kapanpun jadi lebih easy-going.

Ngomong-omong, mayoritas masyarakat Nepal beragama hindu, sama seperti di Bali. Jadi, dilarang keras mengonsumsi Sapi. Bagi teman-teman muslim juga perlu aware ya, kadang mereka menyanjikan pork walaupun sebagian besar selalu menyediakan ikan dan menu sayur lainnya.

Nah, selama perjalanan di Nepal ada banyak makanan yang Saya coba. Beberapa makanan khas, yang lainnya mungkin biasa ditemukan dimana saja. Sebagian enak, tapi ada juga yang cukup-tahu-ajalah. Ini daftarnya :


Momo 

Ini adalah makanan pembuka yang Saya coba setelah tiba di Nepal. Referensi blog dan artikel manapun hampir tidak pernah absen mention makanan tradisional yang mirip Dimsum versi Nepal. Tampilannya sangat menarik. Kita bisa memilih Momo dengan isian daging kerbau (buff), ayam, atau vegetarian lengkap dengan bumbu kari sebagai saus pendamping. Porsinya terlihat tidak begitu besar, tapi ternyata sangat kenyang. Perpaduan rasa kari dan rempah pada bagian dagingnya sangat kuat. Rempah juga menimbulkan rasa hangat yang pas untuk menghadapi suhu 5 derajat sore itu.

Proses pembuatan Momo
Momo - Nepali Dimsum :p


Menurut Ram Chandra, penduduk lokal, kedai yang menyediakan Momo paling juara ada di kawasan Dharahara, sekitar 15 menit dari Thamel dengan menggunakan taksi. Harganya NPR 90 - 150 per porsi. Untuk mencicipi Momo di kedai tersebut, kita perlu sabar karena antrian cukup panjang.

Dal Bhat

Suapan pertama saat mencicipi Dal Bhat seketika mengingatkan Saya pada Nasi Padang. Namun bedanya, sepertinya hampir semua makanan khas Nepal memang sangat kuat bumbu rempah yang digunakan. Makanan ini sangat mudah ditemukan diberbagai tempat di Nepal, termasuk saat pendakian ke ABC.

Dal Bhat biasanya disajikan diatas loyang besi yang diatasnya tertata rapi nasi, beberapa jenis sayur, sambal (Saya lupa sebutannya), juga lauk berupa ikan atau udang. Satu porsi Dal Bhat dapat dimakan untuk dua orang seukuran Saya. Overall, rasanya bisa diterima. Satu-satunya masalah adalah Saya tidak suka nasi.

Btw, putri ibu ini lagi kuliah dokter di USA loh
Dhal Bat
Salah satu kedai Dal Bhat paling ramai di Thamel

Kathmandu Burger

Selama 10 hari di Nepal, ini adalah makanan yang paling sering Saya beli karena sangat suka. Tastiest burger I've ever eaten. Sayang penampakan burgernya lupa difoto. Menu yang selalu Saya beli adalah Kathmandu Special Burger harganya NPR 280, atau sekitar 35 ribu rupiah. Lebih mahal memang dari harga Dal Bat, tapi worth it dengan tumpukan roti, buff ham, chicken, chesee, sayur, dan bumbu yang supeeeer enak dan tebal!

Kedai kecil ini bisa ditemukan di kawasan Thamel, tidak terlalu jauh dari jalan besar sejajar dengan store The North Face. Selain rasa, pelayanan kedai ini juga sangat menyenangkan. Ah, jadi pengen ke Nepal lagi sekedar beli burger.

Makanan favorit selama di Nepal

Susu Kerbau (Buff) & Chura

Dalam perjalanan dari Pokkhara menuju Kimche, Saya kelaparan karena belum sempat sarapan. Saat itu Saya minta pada driver taksi untuk mencari tempat makan apapun yang bisa kami temukan. Tidak mudah menemukan tempat makan saat menyusuri kaki gunung yang berkelok tersebut sampai akhirnya kami berhenti di sebuah rumah kecil. Kata driver taksi, rumah tersebut menjual Susu Kerbau murni yang enak sekali rasanya. Namun sepertinya tidak menjual banyak makanan.


So, Saya membeli segelas susu. Mencoba merasakan susu kerbau pertama kalinya dan ternyata rasanya enak meski tanpa gula sekalipun. Karena masih lapar, Saya minta pada penjualnya makanan untuk breakfast, dan dia memberikan sepiring sayur dan semacam oat  yang ternyata adalah flattened rice. Belakangan Saya tahu, nama makanan itu adalah Chura. Kombinasi makanan yang agak aneh rasanya, tapi tetap Saya habiskan demi pendakian. Untuk segelas susu dan Chura harganya NPR 150.

Chura - Vegetable
Susu Kerbau Murni


Buff Sekuwa

Bentuknya seperti sate tanpa bumbu kacang. Menggunakan daging kerbau membuat teksurnya lebih keras. Tapi bumbu sederhana yang meresap rata sampai kedalam membuat rasa Sekuwa ini lezat. Saya membelinya disekitar Phewa Lake, Phokkara pada malam hari yang dingin. Hanya semacam PKL tanpa kedai dipinggir jalan namun suasananya cukup nyaman. Harga 1 tusuk Sekuwa sekitar NPR 40.


Sekuwa

Sugar Mama Chhomrong - Best Chocolate Cake

Dari keseluruhan rute pendakian ABC, melewati Chhomrong adalah salah satu ujian terberat. Tapi dibalik ribuan tangga yang melelahkan, ada satu harta karun manis yang tersimpan. Herwian, salah satu teman blogger merekomendasikan kue ini untuk dicoba saat pendakian menuju ABC. Menurutnya, ini adalah sweetest temptation selama pendakian.

Bahkan majalah Times pernah menuliskan : " .. has become a legend for the magnanimous slices of warm, brownie-like chocolate cake she serves weary hikers going up to or coming down from base camp". Harga satu slice cake chocolate  sekitar NPR 200. Ada beberapa toko kue di Chhomrong, namun yang paling enak adalah Sugar Mama di Chhomrong Cottage. Kalian harus coba!

Sugar Mama ada di Cottage ini. Gambar ini diambil dari tripadvisor.




Menu selama 5 hari di Gunung

Berbeda dengan pendakian yang pernah Saya lakukan di Indonesia, selama pendakian di ABC makanan lebih terasa seperti di cafe daripada di gunung. FYI, semakin tinggi, harga makanan semakin mahal. Tapi tenang, porsi makanan sebenarnya sangat besar dan cukup untuk 2 kali makan. Kadang untuk mengakali, Saya membeli makanan yang bisa dibungkus untuk dimakan pada pemberhentian berikutnya.

Diantara semua makanan, yang paling bermanfaat membantu daya tahan adalah Garlic Soup (murah lagi :p). Sedangkan yang paling enaaaak adalah Tuna Pizza yang ditraktir sama David (tuh kan sukanya gratisan).


Sebagai penutup, Saya ingin merekomendasikan makanan ringan murahan tapi Saya jamin kalian pasti ketagihan. Dan makanan itu adalaaaah ..... PRAW!

Saya agak menyesal kenapa nggak bawa pulang ke Indonesia. Harganya cuma NPR 20 per bungkus. Keripik kentang renyah dengan bumbu khas kari Nepal yang agak pedas tapi ... ah pokoknya enak!

Oiyaa, ada satu lagi makanan yang berkesan selama perjalanan. Rasanya nggak adil kalau tidak diceritakan. (Ini terakhir, janji)




Adalah sebungkus Nasi Lemak yang dibelikan Bapak dan keluarga Ami di Malaysia. Keluarga yang sama sekali tidak Saya kenal tapi baik hati sekali mau "menampung" saat transit selama 24 jam, setelah pulang dari Nepal. Ini nasi lemak yang bukan cuma rasa masakannya saja yang enak, tapi juga membuat Saya merasakan kebaikan dan ketulusan :)

PS :
Terima kasih sudah membaca!

Cerita Perjalanan Sepuluh Hari di Nepal, Sendirian : Summary.


Nggak pernah terpikir untuk pergi ke luar negeri secepat ini, apalagi luar negeri itu adalah Nepal, negara yang kurang umum juga dikunjungi wisatawan newbie seperti Saya. Yaps, ini adalah perjalanan pertama kali Saya ke luar negeri. Ini juga adalah perjalanan dengan preparation paling heboh yang pernah Saya alami. Huh.

Trip ini Saya lakukan dari tanggal 12 - 23 Desember 2017 lalu, totally 12 hari termasuk transit di Kuala Lumpur selama hampir 24 jam. Well, karena ini perjalanan yang too sweet to forget, jadi Saya pikir nggak ada salahnya ditulis di blog. Sekalian berbagi, who knows ada yang membutuhkan informasi. So, this is it ....
 

Alasan Memilih Nepal?

Jujur nih, pengetahuan Saya tentang tempat bagus di luar Indonesia itu minim banget. My biggest trip-obsession adalah ke Papua, belum ada keinginan ke luar negeri apalagi yang jauh. Tapi berhubung punya paspor yang nganggur dan akan expired di 2018,  Saya jadi punya ide coba pergi ke Gunung Kinabalu (Malaysia) yang akhirnya gagal juga karena regulasi dan cost yang lumayan mahal. Yaudahlaah~

One day, sampailah pada obrolan dengan teman kuliah soal Nepal yang akhirnya membuat Saya penasaran dan kemudian browsing. Beberapa pertimbangan Saya memilih negara ini adalah :

  • Visa-nya gampang (Visa on Arrival)
  • Tiket pesawat masih bisa dijangkau (jauh lebih murah dari tiket ke Papua, hiks)
  • Cost selama disana nggak mahal (compare to Kinabalu nih ya)
  • Ada pegunungan Himalaya yang pasti jadi impian pendaki sejagad raya, dan ternyata banyak pilihan trekking yang sangat possible dilakukan orang awam macam Saya gini.
  • Selain pegunungan, Nepal juga punya banyak tempat keren penuh story yang seru ... satu lagi, yang pasti disana Saya bisa lihat salju (ini alay sih) hehe.

View Machapurche dari Annapurna Base Camp (ABC)

Alasan Solo Travelling?

When I said "spontaneity is my middle name", I mean it. Ini literally jalan dua minggu sebelum berangkat, tanpa persiapan apapun. Waktu itu nekat beli tiket promo final call Air Asia dan langsung gercep ambil cuti yang luckly di approve. Agak ragu karena belum pernah ke luar negeri, tapi kesempatan belum tentu datang dua kali, jadi ya harusnya sikat aja. 

Terus kepikiran ajak teman, tapi ..
Liburan ke Nepal (trekking) itu kan butuh waktu yang cukup panjang, sedangkan teman-teman Saya rata-rata adalah karyawan yang susaaaaaaah cuti lebih dari 3 hari. Siapa dong karyawan yang bisa diprovokasi cuti panjang dalam waktu yang sudah mepet? Mungkin malah disuruh resign aja sekalian. Makanya jangan jadi karyawan :p

Asiknya pergi ke Nepal, negara ini sangat aman untuk solo travelling bahkan bagi perempuan. Asli, sesuai pengalaman pribadi. Mayoritas orang Nepal cukup helping dan ramah. Mungkin yang perlu diwaspadai adalah calo bus, supir taksi, hotel budget, tapi itupun paling cuma soal ongkos. Selama kita punya cukup informasi dan bisa berkomunikasi Saya rasa nggak akan ada kendala yang berarti.

Kalau ditanya apa nggak enaknya pergi sendiri, maka jawaban pertama adalah cost akan lebih mahal (sebagai gantinya pengalaman yang didapatkan jauh lebih kaya). Selain itu, kalau pergi sendirian, dokumentasimu pasti lebih banyak isinya landscape. Kenapa? karena kesempatan untuk foto diri sendiri itu ribet harus minta tolong orang atau setting timer terus lari. Tapi jaman sekarang kamera sudah ada remote-nya yang sangat membantu.

Terakhir, kamu pasti ngerasa creepy dan agak sepi kalau nggak ada teman bicara sementara sekitarmu lagi asik ngobrol sama grup atau pasangannya masing-masing. Apalagi pas diatas gunung yang suhunya minus itu mereka pada peluk-pelukan, sementara kamu menggigil sampai ingus beku jadi es - sendirian, kezel! 


Thamel Situation

Persiapan yang dilakukan? 


Dalam dua minggu yang begitu cepat, cukup ribet mempersiapkan ini itu. Apalagi ini pertama kali ke luar negeri, nervous sekali. Khawatir dokumen ada yang tertinggal, takut tas over bagasi, takut nggak lolos imigrasi, bla bla bla ... yang alay-alay itu kepikiran semua.

Beberapa hal yang umum, tapi perlu dicatat :

Olahraga. Buat Saya yang hobi mendadak travelling, ini penting banget. Biasanya cuma lari pagi atau sore aja, minimal semingu 3 kali. Setelah jalan ke ABC, Saya makin yakin kalau rajin olahraga itu sangat membantu.
Punya paspor adalah keniscayaan. Walaupun perjalanan ini cukup spontan, tapi soal paspor sebenarnya sudah ready dari tahun 2013 tanpa pernah sekalipun dipakai. Kasihan dia. Btw, kalau ada paspor, kita bisa beli tiket yang tiba-tiba promo, tiba-tiba final call. Paspor ini diperlukan tidak hanya untuk urusan imigrasi, tapi juga diperlukan untuk membeli SIM Card lokal dan pengurusan ijin mendaki di Nepal.
Menentukan tujuan. Kira-kira mau ngapain sih di Nepal? Trekking, belanja, wisata budaya, atau apa? Saya ke Nepal karena ingin trekking ke Annapurna Base Camp (ABC). Setelah itu, Saya baru bisa menentukan berapa lama disana, transport, dan akomodasi seperti apa yang Saya butuhkan, dll.
As a first-timer, Saya perlu banyak membaca dan bertanya untuk mencukupi semua kebutuhan informasi. Beberapa blog yang sangat membantu dan informatif antara lain :  Kapankemana, Gardjoew, Herwian Pilgrim, dan Trip Raiyani (Thanks anyway). Agar lebih mantap, nggak ada salahnya cari informasi di web internasional seperti Lonely Planet dan untuk update informasi trekking/cuaca, bisa cek di website : Indiahikes dan Mountain Weather Forcast (Silahkan diklik).

Deretan Pegunungan Himalaya (Sagarmatha) terlihat dari Pesawat

Pesan tiket pesawat dan hotel. Kebetulan beli tiket pas ada promo final call Air Asia (harga tiket SUB - KL (Transit) - KTM PP Rp 3.200.0000,-) Saya beli melalui Asiatrip. Untuk hotel, tinggal cari di Agoda, rata-rata harganya backpacker-friendly lah.
Siapkan perlengkapan travelling. Mulai dari uang, pakaian, jaket tebal, tas, sepatu, obat, dan segala perintilan yang kecil-kecil. Terutama kalau musim dingin, kita perlu menyesuaikan lagi perlengkapan yang dibawa. Tapi kita nggak perlu lebay kok. Tenang aja, di Nepal banyak toko.

Apa saja yang perlu dibawa?

Tergantung pas kesana lagi musim apa. Nepal mengalami 6 pergantian musim, Januari - Februari (Winter), Maret - Mei (Spring), Juni - Juli (Summer), Juli - September (Rainy), Oktober - November (Autumn), Desember (pre-winter). Desember kemarin di Nepal mulai masuk musim dingin, suhu paling dingin saat itu bisa sampai minus 18 derajat, jadi perlengkapan yang  Saya bawa adalah :



Itinerary & Budget 

Saya cukup beruntung menemukan banyak referensi yang saling melengkapi dan up to date dari blog-blog yang tadi disebutkan. Dari situ Saya bisa menyusun itinerary dan budget sendiri tanpa perlu menggunakan jasa travel agent. Klasik tapi nyata, kelebihan arrange perjalanan sendiri itu, kita bisa bebas menentukan tujuan tanpa dibatasi otoritas si travel agent. Seruuuu!

Sebagai gambaran, berikut list aktivitas dan budget yang Saya keluarkan selama di Nepal, tidak termasuk oleh-oleh. Mostly Saya adaptasi dari panduan yang ditulis Mbak Ajeng (kapankemana.com) disesuaikan dengan sikon disana :

Honestly, kurs per NPR saat itu sekitar 120 rupiah .. dibuat seperti diatas biar lebih mudah saja :)

Kurang lebih seperti itu informasi umum yang paling sering ditanyakan teman-teman. Maafkan kalau nulisnya kurang oke dan barangkali ada yang kurang lengkap, silahkan dikomen. Biar nggak terlalu panjang, cerita yang lengkap perjalanan akan lanjut di chapter berikutnya, tunggu ya.

Anyway, terima kasih sudah membaca :)

Nusa Tenggara Barat Tripalone (Part 1) : Akhirnya Rinjani!


Hi, again!
I'm back, setelah hibernasi dalam kemalasan sepanjang hampir satu tahun, yaampuuun! Berdasarkan kejadiannya, cerita ini mungkin basi. Payah sekali, ini sebenarnya adalah cerita perjalanan impian tapi kok ya baru ditulis setelah lewat berbulan-bulan. Maafkan ya ..

Memang iya, pergi ke Rinjani adalah mimpi sejak kurang lebih tiga tahun lalu. Waktu masih hidup di Malang, duit pas-pasan, butuh usaha sangat keras mengumpulkan rupiah kalau mau jalan-jalan. Nah, Saya pun merasa perlu menulis lagi agar traveller muda yang masih sekolah, masih kuliah, jangan putus asa, suatu saat (kalau sudah waktunya) pasti bisa kok. I have been there, done that!

Agustus 2016 kesempatan itu datang, meski perjalanan hampir Saya batalkan karena sepuluh hari sebelum berangkat Gunung Barujari (anak Gunung Rinjani) erupsiPendakian sempat ditutup selama hampir satu minggu, padahal tiket pergi pulang sudah disaku. Dua hari sebelum berangkat barulah keluar release dari Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) mengabarkan aktivitas Gunung sudah normal dan aman untuk pendakian, doa yang terjawab! 😎

Teman-teman harus sedikit bersabar membaca ya, karena Saya akan ceritakan dari saat persiapan mudah-mudahan ini helping untuk para backpacker atau yang pergi sendirian (just like me). 


Things to prepare :

Fisik : Saya paham dan sadar banget kalau naik gunung manapun itu berat. Apalagi jalan kaki tiga hari di gunung tertinggi kedua se-Indonesia itu sejujurnya bukan hal yang mudah untuk Saya yang bantet ini. Maka hal utama yang Saya siapkan sejak jauh-jauh hari adalah fisik. Caranya? Lari, olahraga paling praktis (30-60 menit, 4-5 kali seminggu) Dengan olahraga, perjalanan akan tetap berat tapi badan bisa jadi lebih kuat. Trust me, it works!
Informasi :  Untuk manusia pelupa dan random seperti Saya, I suggest you to buat catatan hal-hal penting atau minimal bikin oret-oretan jadwal agar nggak bingung mau kemana, naik apa (karena dijalan sinyal telepon tidak selalu bisa diandalkan).
Uang dan ID Card : Rinjani adalah gunung terindah yang memang harus dibayar lebih mahal dibanding gunung lainnya (bahkan untuk backpacker). Jadi, nabung yang rajin yah anak-anak muda 😀 Jangan lupa bawa KTP, selalu ada pemeriksaan diloket, dibandara, dikapal, dimanapun.
Perlengkapan pribadi : Jaket, kaos kaki, sleeping bag, bla bla bla. Kalau ingin lebih praktis, di Senaru dan Sembalun tersedia banyak rental alat pendakian. Saran Saya, bawa secukupnya saja, jangan satu lemari dimasukkan ke carrier semua (biar keren). Kasihan dengkulmu, nak.
Mental : Everywhere, everytime kita wajib paham resiko perjalanan, paham apa saja yang nantinya akan dijumpai, mengerti harus bagaimana menjaga dan menempatkan diri. Termasuk selalu sopan, berusaha untuk tidak menyulitkan orang lain, dan jangan buang sampah sembarangan. And if you trust God, berdoalah selalu.
Kalau sudah siap, Mari kita berangkat!

Surabaya - Lombok (Praya) - Desa Senaru
Kebetulan dapat tiket pesawat murah, tanggal 12 Agustus 2016 Saya meluncur ke Lombok dengan flight paling malam. Tiba di Praya sekitar pukul 10 waktu setempat. Setelah makan dan istirahat sebentar, langsung menuju ke Desa Senaru, gate pendakian Rinjani. Perjalanan sekitar 3,5 jam dengan mobil. Saya diantar oleh Pak Slamet dan istrinya, rekan yang sudah seperti saudara sendiri.

Sampai di Senaru masih pagi buta. Pak Slamet dan istrinya pulang, Saya jadi sendirian lagi. Segera prepare mencari sewa alat dan perlengkapan yang dibutuhkan sekaligus porternya. Porter disini hukumnya wajib untuk pemberdayaan masyarakat lokal, sama halnya  sewa Jeep di Bromo.

INFO :
* Kendaraan Umum dari Praya (Bandara) atau dari Lembar (Pelabuhan) : Naik Bus ke Terminal Mandalika - dari Mandalika lanjut naik Engkel atau Mobil Sayur ke Desa Senaru (maksimal jam 2 Siang)
* Estimasi biaya sewa alat bisa dicek disini (rata-rata sama kok)





Well, menurut review yang Saya baca, ada 3 jalur pendakian Rinjani yang familiar yaitu via Senaru, via Sembalun, dan via Torean. Pada umumnya, pendaki lebih sering naik lewat Sembalun lalu turun lewat Senaru. Sembalun relatif lebih landai dan bersahabat, tapi sangat terik karena jarang pohon. Sebaliknya, Senaru jalur yang lebih adem, meskipun penuh tanjakan dan lebih jauh.

Saya pilih lewat Senaru, karena nggak kuat mendaki dibawah terik matahari yang menyengat, berat. Sempat diremehkan orang-orang karena Senaru itu terkenal sebagai "jalur bule", nah Saya kan lokal, kakinya pendek, bantet, perempuan lagi. Ya gimana nggak diremehkan .. 

Tips hemat untuk yang pergi sendirian : cari teman agar bisa share cost. Gimana caranya? Ngobrol. Mulai tanya nama, asal darimana, sama siapa, sampai ..... mau nggak kita join? Biasanya (modus) itu berhasil, tapi tetap harus hati-hati ya.

Di Senaru, kebetulan pengunjungnya bule semua, deuuuh ... Beruntung sekali Saya bertemu dengan Nina Bosshard, bule super friendly dari Swiss yang juga solo traveller. Punya banyak kesamaan, kami jadi betah ngobrol cukup lama dan sepakat untuk mendaki bersama. Kebetulan sebelumnya Nina juga ngobrol dengan empat orang dari Jerman, mereka satu keluarga. Bisa ditebak, akhirnya bukan cuma Saya dan Nina saja yang bersama, keempat orang itu juga. Mereka adalah Hans, Marimar, Elisah, dan Lukas (bapak-ibu-dua-anak).

Oiya, kami ditemani porter (lupa namanya) dan guide super baik hati bernama Pak Subuh (highly recomended! CP : 081936796207)


Gunung Rinjani, tertinggi kedua di Indonesia, 3.676 Mdpl. Orang bilang, itu tempat tinggal Dewi Anjani yang sangat cantik dan Saya percaya saat sudah melihatnya. Seringkali Saya berhenti jalan sebentar, berdiri diatas tanah Rinjani dengan menarik napas lebih dalam, hanya untuk mengaggumi betapa sempurnanya buatan Tuhan.

Tiga hari dua malam, satu gunung, durasi pendakian paling lama sejauh ini. Seru, banyak sekali pengalaman baru. Salah satunya ya karena hampir tidak menemukan teman sebangsa (selain porter) selama perjalanan. Super ndeso, baru sekali ini merasakan naik gunung ala bule yang penuh privilege, full stock makanan bergizi, tapi tetap hemat, yey!

Biar nggak terlalu panjang ceritanya, langsung Saya ringkas ya itinerary-nya :

DAY 1 : Desa - Plawangan Senaru

Desa Senaru - Pos 1, sekitar 45 menit. Menyelesaikan administrasi di loket, lalu melewati beberapa rumah penduduk. Setelah lewat gerbang selamat datang medannya mulai berubah jadi hutan. Suasananya sangat sejuk dan belum terlalu terjal.
Pos 1 - Pos 2, sekitar 90 menit. Suasananya masih hutan tropis, medan mulai terjal. Tidak begitu menanjak, tapi mulai bertemu batu-batu besar yang kadang licin dan cukup menguras tenaga. Sempat istirahat beberapa lama untuk makan siang. Biasanya jalan sampai lupa makan, sekarang enak aja tinggal makan, semua sudah disiapkan.
Pos 2 - Pos 3, sekitar 90 menit juga. Kok cepat? Iyalah. Mereka jalan santai, Saya berlari. Menderita rasanya. Para bule berkaki panjang itu jalannya cepat sekali, pak porter apalagi. Meski sudah berusaha jalan cepat, Saya selalu ketinggalan dibelakang dan akhirnya tetap jalan sendirian. Medannya semakin terjal, berbatu, dan agak licin. Sempat hujan juga tapi tidak lama.
Pos 3 - Pos 4, sekitar 2 jam. Medan mulai berbeda, semakin menderita. Pohon rimbun sudah tidak lagi memayungi kepala dari matahari. Lebih banyak semak-semak tinggi. Cokelat warnanya, gersang karena musim kemarau. Sepanjang jalan ditutupi debu tanah. Jika ada orang jalan didepan kita, debunya terbang kemana-mana. It's hard. Celana, sepatu, bahkan rambut Saya yang hitam pun jadi abu-abu muda, debu menempel semua. Tapi penderitaan hari pertama akan berakhir saat kita sampai di Pos 4 "Plawangan Senaru". Disanalah tempat bermalam yang aman, biasanya pendaki berebut mendirikan tenda didekat Segara. Saya bersyukur hari itu terlewati begitu cepat. Meski perjalanan panjang, tapi itu menyenangkan. Malam itu Saya tidur pulas setelah puas melihat bintang dan bulan yang sangat terang. 

























DAY 2 : Plawangan Senaru - Plawangan Sembalun

Hari paling menyenangkan selama pendakian. Bangun disambut cuaca pagi yang cerah dengan udara bersih dan sarapan yang istimewa sekali. Hari ini kami akan berjalan sampai ke bascamp di Plawangan Sembalun, sisi lain dari Gunung Rinjani. Menurut Pak Subuh, basecamp itu tidak begitu jauh dan Saya pasti akan senang karena akan mampir ke Segara Anak serta Hot Spring (namanya lupa). 

Sungguh, Rinjani itu layak jadi geopark. Medan pendakian yang bermacam-macam lengkap dengan banyak sekali spot yang bisa disinggahi bikin Saya lupa ini masih di bumi, belum di Surga. Overjoyed rasanya. Sumpah, I do in love with this mountain, so much! Coba cek foto dibawah biar percaya.

Plawangan Sembalun - Segara Anak, sekitar 2 jam. Setelah sedikit tanjakan sebagai pemanasan pagi, Saya sangat dimanjakan dengan medan yang hampir seluruhnya adalah turunan. Jika kemarin Saya selalu ketinggalan, hari ini Saya bisa gaya jalan duluan. Sebuah keuntungan kaki pendek, yey!
Segara Anak - Hot Spring, sekitar 30 menit. Seberapapun jauhnya, bodo amat. Berendam air hangat langsung dari sumbernya jadi fokus utama Saya. Ini pertama kalinya naik gunung dapat bonus hot spring. Walaupun saat itu matahari sudah tinggi, seharusnya bukan waktu yang tepat untuk berendam air panas, toh kami tetap menikmatinya. Sepi sekali, seperti Jacuzzi milik sendiri. Uuuuuhhhh, Speechless!
Segara Anak - Plawangan Sembalun, sekitar 3 jam. Dari hot spring, kami kembali ke tepi Segara Anak dan berhenti beberapa lama untuk makan siang. What a day! Tapi, setelah itu penderitaan segera dimulai kembali. Medan kali ini lumayan bikin ngos-ngosan. Panjang dan penuh tanjakan. Kembali jadi yang paling terakhir berjalan. Rasanya kok nggak sampai-sampai sih.. Menjelang jam 3 atau setengah 4 sore, akhirnya sampai di Plawangan Sembalun, merasa kurus dan langsung lapar lagi.

Berbeda dengan Senaru, Sembalun lebih didominasi pendaki lokal. AKHIRNYAA bisa ngobrol pakai bahasa Indonesia! Saya suka sekali menikmati sore itu. Berinteraksi dengan rekan-rekan pendaki lain, main-main ke tenda bapak-bapak porter, juga quality time bersama Nina. Saya jadi ngerti, para porter itu masih Satu keluarga. Mereka bekerja dari masih muda dan berhenti jika nanti sudah tidak kuat lagi mendaki. Upahnya tidak banyak, kalau ada pendaki atau turis baik hati barulah mereka dapat uang lebih dari tips yang diberi. Betapa hidup itu nggak mudah ya, bersyukur Gem!

Di Sembalun terlihat lebih kotor dan banyak sampah. Sedih. Kadang ada pendaki yang tidak mau repot bawa pulang sisa perbekalan mereka (kenapa nggak ditelan saja sekalian sama makanannya 😤). Kadang porter juga begitu. Semoga Saya dan semua yang baca jangan jadi salah satu dari si tukang nyampah ya. Amin.

Kira-kira jam 8 malam Saya dan Nina sudah tidur. Kami berdua akan lanjut ke summit dini hari nanti sedangkan empat orang yang lain akan stay di tenda.




























DAY 3 : Plawangan Sembalun - Summit - Desa Sembalun

Plawangan Sembalun - Summit, sekitar 3 jam (tapi rasanya lamaaaaaaa banget). Saya dan Nina mulai berjalan sekitar jam 2 dini hari. Ya Tuhan, ini medan terberat selama mendaki. Sungguh segala rintangan ada semua disini. Kerikil, pasir, tanjakan, semua ada. Sekali putus asa, Saya yakin nggak akan mau jalan lagi sampai summit. Jangan bawa apa-apa selain yang penting-penting saja dan start dimalam hari adalah pilihan terbaik! Saya nggak cerita deh bagaimana rasanya sampai di puncak dan melihat matahari terbit, mungkin foto dibawah lebih bisa mengungkapkannya
Pada akhirnya kalau cerita ini sedang teman-teman baca, artinya perjalanan ini sudah bukan lagi mimpi, kedua kaki Saya telah menginjak tanah di puncak Gunung Rinjani. It was perfect, haru sekali! 🙌 
Summit - Desa Sembalun, sekitar 4 jam. Setelah cukup puas menikmati puncak, Saya dan Nina turun ke basecamp. Keluarga Jerman itu sudah menunggu. Kami harus segera turun ke Desa Sembalun, mengakhiri perjalanan kali ini. Jalur yang berbeda dengan pada saat kami berangkat. Medannya banyak turunan, relatif lebih landai, sedikit pohon, dan berdebu. Saya ingat betul, ada jalan yang dinamakan Bukit Penyesalan karena pendaki pasti "menyesal" melewati jalan yang sulit sekali itu. Namun Sembalun punya pesona yang keren juga. Padang Savananya sangat indah. 











Dibelakang kami adalah summit tertinggi yang sering digunakan untuk foto. Kami sengaja turun sedikit, karena terlalu banyak orang berebut foto disana, bahaya.
















Saya berpisah dengan semuanya di Gate Desa Sembalun. Mereka akan kembali ke Mataram, sedangkan Saya ... I'm not sure. Random-nya kumat. Sepertinya akan lanjut ke Sumbawa. Hehehe.

Saya nggak menemukan transportasi menuju Sumbawa sampai akhirnya bertemu dengan sekelompok pemuda Sasak yang juga baru turun gunung. Mereka menawarkan tumpangan sampai ke daerah yang bisa dijangkau dengan transportasi ke Sumbawa, 90 menit dari Sembalun. Membantu Saya hingga menemukan elf untuk melanjutkan perjalanan ke Sumbawa. 

Baik sekali. Mereka berbagi tempat duduk di pick up dengan Saya bahkan mentraktir gorengan pas Saya lagi lapar-laparnya. Mereka ceritakan segala yang menarik tentang Lombok, kami pun sempat berhenti dijalan, membeli strawberry segar kesukaan Saya. Betapa cintanya Saya, disini beli 20 ribu dapat 12 kotak dan masih diberi bonus satu kresek. God bless you, petani lokal!

INFO :
Kendaraan Umum dari Sembalun : Sewa pick up atau naik mobil Sayur menuju ke arah Terminal Mandalika (maksimal jam 2 Siang)





Terlalu banyak hal istimewa yang membuat Saya kagum dalam setiap perjalanan, terutama kebaikan hati orang-orang yang Saya jumpai. Untuk semuanya, dari hati yang paling dalam, Terima kasih.

Masih ada kebaikan yang Saya alami di Sumbawa, akan Saya tulis segera (mudah-mudahan saja).