• Home
  • About
  • Contact
    • Email
Instagram Facebook Google +
 #SoloTrip

Pertengahan tahun 2014 adalah kali pertama Saya menginjakan kaki di Pulau Sumbawa. Menyeberang dari Pulau Lombok, menghabiskan malam menunggu bus yang tak kunjung datang disebuah toko kelontong kecil tepat diseberang terminal bus Sumbawa Besar. Bukan untuk berwisata, hanya numpang lewat saja. Meski cuma sebentar, tapi beberapa jam melintasi Sumbawa hingga sampai di Pelabuhan Sape akan sulit dilupakan. It was my first solo trip experience (cerita lengkapnya disini)

Seorang co-driver bus yang Saya tumpangi waktu itu berpesan "Kapan-kapan harus kembali lagi ke Sumbawa, pergi lihat air terjun dan Gunung Tambora". Saya jawab .. "Pasti, kalau ada kesempatan (meski tidak tahu kapan)".


Pertama kali melintasi Pulau Sumbawa, 2014.
Dua tahun kemudian, Agustus 2016, perjalanan spontan sepulang dari Gurung Rinjani membawa Saya kembali ke Sumbawa. Keberuntungan mempertemukan Saya dengan sebuah keluarga yang amat hangat. Bapak Tio, Mamak, Mas Iwan, dan Denok. Tengah malam Saya datang dengan wajah lusuh kelelahan, menumpang tinggal di rumah orang yang tidak pernah dikenal sebelumnya. Keluarga ini menerima dan memperlakukan Saya seperti anak sendiri, sampai tidak bisa lagi bersikap sebagai 'tamu'.

Jika malam itu tidak ditawari tinggal di rumah Bapak, maka Saya akan menghabiskan sisa hari di pelaban Poto Tano yang sepi. Saya juga tidak akan pernah tahu sedapnya rasa Dadar Jagung hangat buatan Mamak. Dan, tentu saja Saya tidak akan pernah coba sensasi mandi di kali Semongkat. Haha, sederhana sekali ya.

Tak hanya memberikan Saya kesempatan untuk mengunjungi tempat-tempat yang menakjubkan ditanah kecintaan mereka, namun juga membuat Saya begitu sulit untuk tidak meninggalkan hati disana.


Bersama Bapak Tio, Mamak, Mas Iw, sekeluarga - 2016
Menggenapi janji pada co-driver, pertengahan tahun 2018 ini Saya kembali ke Sumbawa untuk 'pergi lihat Gunung Tambora'. Perjalanan yang sangat menyenangkan bersama blogger panutan Saya, Mbak Ajeng (kapankemana.net), Hilmi (muhiga.wordpress.com), dan Silvia.

Meski tidak pergi sendirian, perjalanan tersebut kembali mempertemukan Saya dengan orang-orang baru. Salah satu yang berkesan adalah perjumpaan dengan Setyo Manggut, peneliti muda asal Jakarta yang kami jumpai di basecamp Tambora. Pemahamannya mengenai Sumbawa membuat kami terkesan. Hasil pendalaman sejarah dan budaya setelah tinggal disana berbulan-bulan diceritakannya agar kami bisa mengenal Sumbawa sedikit lebih dalam. Menarik!


Kami berlima di Pulau Satonda, 2018

Dimana letak Pulau Sumbawa?

Sebelum lanjut bercerita lebih jauh, Saya ingin sedikit menunjukan lokasi Pulau Sumbawa, barangkali masih ada yang bingung membedakan Pulau Sumbawa dan Pulau Sumba. Keduanya sama-sama di Nusa Tenggara tapi lokasinya saling berjauhan. Kalau teman-teman pernah nonton film Marlina atau Pendekar Tongkat Emas, itu di Pulau Sumba (NTT). Sedangkan Pulau Sumbawa terletak di provinsi Nusa Tenggara Barat, salah satu bagian dari Kepulauan Sunda Kecil. Pulau ini bereda diantara Pulau Lombok (NTB) dan Pulau Flores (NTT). Kota terbesarnya adalah Bima yang berada di bagian timur pulau tersebut.

Source : indonesia-tourism.com

Apa yang bisa kita temukan di Pulau Sumbawa?

Dalam dunia pariwisata, eksistensi Pulau Sumbawa mungkin belum sepopuler pulau-pulau lain disekitarnya namun potensi alam yang dimiliki pasti akan membuat kita terpesona.  Pulau Kenawa, Pulau Moyo, Pulau Satonda, Gunung Tambora cobalah googling nama-nama tersebut. Sebagian dari destinasi wisata yang Saya sebutkan itu rasanya hanya akan menggambarkan secuplik dari luasnya keindahan di Pulau Sumbawa.

Budaya masyarakat Sumbawa yang unik juga memiliki daya tarik. Meski tinggal diatas satu pulau yang sama, namun masyarakat Sumbawa punya karakter dan ciri khas budaya yang beragam. Manifestasi ragam budaya tersebut bisa kita saksikan melalui bangunan, atraksi, seni, dan berbagai aktivitas masyarakat lainnya.

Selain destinasi wisata dan budaya, tiga hal lainnya yang paling terkenal dari Sumbawa adalah Kuda, Madu, dan Kopi. 


Bagaimana cara menuju Pulau Sumbawa?

Banyak moda transportasi yang dapat digunakan untuk sampai ke Pulau Sumbawa. Beberapa yang sudah pernah Saya coba adalah :
  • Bus : Merupakan alternatif transportasi yang termudah dan termurah namun membutuhkan kesabaran karena waktu tempuh yang cukup lama, sekitar 30 jam (*nangis). Dari Surabaya menuju ke Bima bisa dengan mudah dipesan diterminal Purabaya (Bungurasih). Harga tiket sekitar Rp 600.000, nama PO Tiara Mas (ada juga alternatif lainya). Menurut pengalaman, Bus ini akan melewati Sumbawa Besar, jadi jika tujuan kita tidak sampai ke Bima harga bisa lebih murah. Tetapi, jika tujuan kita lebih jauh dari Bima (misalnya : Dompu, Sape, atau lanjut ke Flores) maka kita harus ganti dan melanjutkan perjalanan dengan bus yang lebih kecil. Tarif bus Bima - Sape mulai dari Rp 25.000, sedangkan Bima - Dompu mulai Rp 70.000 (sampai ke desa Pancasila, gerbang pendakian Gunung Tambora).
  • Kapal Ferry : Jika lokasi keberangkatan lebih dekat, misalnya dari Lombok, kita bisa sampai di Pulau Sumbawa dengan naik kapal. Saya pernah coba naik kapal dari Pelabuhan Kayangan (Pulau Lombok) menuju ke Pelabuhan Poto Tano (Pulau Sumbawa). Perjalanan ditempuh selama kurang lebih 2 jam dengan tarif Rp 20.000 (jika belum berubah). Sekitar 6 kali naik, kapalnya selalu bersih dan nyaman. Informasi selengkapnya bisa kalian dapatkan di website ASDP berikut : www.indonesiaferry.co.id 
  • Pesawat : Apabila waktu kita terbatas, maka pesawat adalah pilihan transportasi yang sangat tepat. Tidak ada direct flight dari Surabaya ataupun Jakarta ke Sumbawa sehingga kita harus transit via Lombok atau Bali. Ada 2 bandara di Pulau Sumbawa, letaknya di Sumbawa Besar (SWQ) dan di Bima (BMU). Pastikan bandara yang dipilih lokasinya lebih dekat dengan destinasi tujuan. Estimasi harga tiket dari Lombok ke SWQ/BMU mulai sekitar Rp 300.000 (sesuai pengalaman).
  • Sewa Kendaraan : Ketiga pilihan diatas mungkin kurang nyaman untuk bepergian bersama rombongan atau keluarga, maka kita bisa juga menyewa kendaraan pribadi lengkap dengan pengendaranya. Saya pernah menggunakan jasa sewa kendaraan dengan harga dan pelayanan yang baik, berikut kontaknya : Mulya Rentcar.
Salah satu maskapai yang menyediakan rute Lombok - Sumbawa

Akomodasi di Pulau Sumbawa?

Sejauh perjalanan ke Pulau Sumbawa, Saya belum pernah menginap di hotel. Saya pernah bermalam di warung pinggir terminal (parah), menginap di rumah penduduk lokal (Bapak Tio), dan satu-satunya penginapan berbayar yang pernah Saya singgahi hanyalah basecamp Tambora (akan saya ceritakan pada part berikutnya). Namun tenang saja, banyak hotel maupun penginapan yang backpacker-friendly disana.

Waktu terbaik berkunjung ke Pulau Sumbawa

Sumbawa memiliki banyak savana, pulau cantik, pantai, serta gunung. Saya pribadi lebih suka menikmati itu semua pada musim panas, sekitar bulan Juni hingga September. Ada juga yang lebih suka mengunjungi pulau ini sesaat setelah musim hujan berakhir karena padang savana dan beberapa bukitnya terlihat lebih hijau. Namun, saran bagi pendaki yang bertujuan ke Gurung Tambora, sebaiknya hindari pendakian saat musim hujan demi keamanan dan kenyamanan.

Amankah pergi sendirian ke Sumbawa?

Berdasarkan pengalaman Saya, Sumbawa cukup aman bagi solo-traveller. Namun, mempelajari dan mempersiapkan diri terhadap segala sesuatu yang akan kita hadapi merupakan upaya terbaik yang bisa dilakukan sebelum bepergian. Pesan Bapak Tio, "... dimanapun di dunia ini akan semakin jahat. Bukan berarti harus takut, tetapi harus lebih waspada kemanapun kita melangkah .."

Begitulah kira-kira :)


Masih ada banyak cerita dari Barat Nusa Tenggara yang ingin Saya bagikan. Tentang Pulau-pulau yang rasanya seperti milik sendiri, juga tentang gagahnya Gunung Tambora yang letusannya berdampak pada sejarah dunia. Tunggu bagian berikutnya ya!

Terima kasih sudah membaca ♥
Share
Tweet
Pin
Share
No comments

Hi, again!
I'm back, setelah hibernasi dalam kemalasan sepanjang hampir satu tahun, yaampuuun! Berdasarkan kejadiannya, cerita ini mungkin basi. Payah sekali, ini sebenarnya adalah cerita perjalanan impian tapi kok ya baru ditulis setelah lewat berbulan-bulan. Maafkan ya ..

Memang iya, pergi ke Rinjani adalah mimpi sejak kurang lebih tiga tahun lalu. Waktu masih hidup di Malang, duit pas-pasan, butuh usaha sangat keras mengumpulkan rupiah kalau mau jalan-jalan. Nah, Saya pun merasa perlu menulis lagi agar traveller muda yang masih sekolah, masih kuliah, jangan putus asa, suatu saat (kalau sudah waktunya) pasti bisa kok. I have been there, done that!

Agustus 2016 kesempatan itu datang, meski perjalanan hampir Saya batalkan karena sepuluh hari sebelum berangkat Gunung Barujari (anak Gunung Rinjani) erupsi. Pendakian sempat ditutup selama hampir satu minggu, padahal tiket pergi pulang sudah disaku. Dua hari sebelum berangkat barulah keluar release dari Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) mengabarkan aktivitas Gunung sudah normal dan aman untuk pendakian, doa yang terjawab! 😎

Teman-teman harus sedikit bersabar membaca ya, karena Saya akan ceritakan dari saat persiapan mudah-mudahan ini helping untuk para backpacker atau yang pergi sendirian (just like me). 


Things to prepare :

Fisik : Saya paham dan sadar banget kalau naik gunung manapun itu berat. Apalagi jalan kaki tiga hari di gunung tertinggi kedua se-Indonesia itu sejujurnya bukan hal yang mudah untuk Saya yang bantet ini. Maka hal utama yang Saya siapkan sejak jauh-jauh hari adalah fisik. Caranya? Lari, olahraga paling praktis (30-60 menit, 4-5 kali seminggu) Dengan olahraga, perjalanan akan tetap berat tapi badan bisa jadi lebih kuat. Trust me, it works!
Informasi :  Untuk manusia pelupa dan random seperti Saya, I suggest you to buat catatan hal-hal penting atau minimal bikin oret-oretan jadwal agar nggak bingung mau kemana, naik apa (karena dijalan sinyal telepon tidak selalu bisa diandalkan).
Uang dan ID Card : Rinjani adalah gunung terindah yang memang harus dibayar lebih mahal dibanding gunung lainnya (bahkan untuk backpacker). Jadi, nabung yang rajin yah anak-anak muda 😀 Jangan lupa bawa KTP, selalu ada pemeriksaan diloket, dibandara, dikapal, dimanapun.
Perlengkapan pribadi : Jaket, kaos kaki, sleeping bag, bla bla bla. Kalau ingin lebih praktis, di Senaru dan Sembalun tersedia banyak rental alat pendakian. Saran Saya, bawa secukupnya saja, jangan satu lemari dimasukkan ke carrier semua (biar keren). Kasihan dengkulmu, nak.
Mental : Everywhere, everytime kita wajib paham resiko perjalanan, paham apa saja yang nantinya akan dijumpai, mengerti harus bagaimana menjaga dan menempatkan diri. Termasuk selalu sopan, berusaha untuk tidak menyulitkan orang lain, dan jangan buang sampah sembarangan. And if you trust God, berdoalah selalu.
Kalau sudah siap, Mari kita berangkat!

Surabaya - Lombok (Praya) - Desa Senaru
Kebetulan dapat tiket pesawat murah, tanggal 12 Agustus 2016 Saya meluncur ke Lombok dengan flight paling malam. Tiba di Praya sekitar pukul 10 waktu setempat. Setelah makan dan istirahat sebentar, langsung menuju ke Desa Senaru, gate pendakian Rinjani. Perjalanan sekitar 3,5 jam dengan mobil. Saya diantar oleh Pak Slamet dan istrinya, rekan yang sudah seperti saudara sendiri.

Sampai di Senaru masih pagi buta. Pak Slamet dan istrinya pulang, Saya jadi sendirian lagi. Segera prepare mencari sewa alat dan perlengkapan yang dibutuhkan sekaligus porternya. Porter disini hukumnya wajib untuk pemberdayaan masyarakat lokal, sama halnya  sewa Jeep di Bromo.

INFO :
* Kendaraan Umum dari Praya (Bandara) atau dari Lembar (Pelabuhan) : Naik Bus ke Terminal Mandalika - dari Mandalika lanjut naik Engkel atau Mobil Sayur ke Desa Senaru (maksimal jam 2 Siang)
* Estimasi biaya sewa alat bisa dicek disini (rata-rata sama kok)





Well, menurut review yang Saya baca, ada 3 jalur pendakian Rinjani yang familiar yaitu via Senaru, via Sembalun, dan via Torean. Pada umumnya, pendaki lebih sering naik lewat Sembalun lalu turun lewat Senaru. Sembalun relatif lebih landai dan bersahabat, tapi sangat terik karena jarang pohon. Sebaliknya, Senaru jalur yang lebih adem, meskipun penuh tanjakan dan lebih jauh.

Saya pilih lewat Senaru, karena nggak kuat mendaki dibawah terik matahari yang menyengat, berat. Sempat diremehkan orang-orang karena Senaru itu terkenal sebagai "jalur bule", nah Saya kan lokal, kakinya pendek, bantet, perempuan lagi. Ya gimana nggak diremehkan .. 

Tips hemat untuk yang pergi sendirian : cari teman agar bisa share cost. Gimana caranya? Ngobrol. Mulai tanya nama, asal darimana, sama siapa, sampai ..... mau nggak kita join? Biasanya (modus) itu berhasil, tapi tetap harus hati-hati ya.

Di Senaru, kebetulan pengunjungnya bule semua, deuuuh ... Beruntung sekali Saya bertemu dengan Nina Bosshard, bule super friendly dari Swiss yang juga solo traveller. Punya banyak kesamaan, kami jadi betah ngobrol cukup lama dan sepakat untuk mendaki bersama. Kebetulan sebelumnya Nina juga ngobrol dengan empat orang dari Jerman, mereka satu keluarga. Bisa ditebak, akhirnya bukan cuma Saya dan Nina saja yang bersama, keempat orang itu juga. Mereka adalah Hans, Marimar, Elisah, dan Lukas (bapak-ibu-dua-anak).

Oiya, kami ditemani porter (lupa namanya) dan guide super baik hati bernama Pak Subuh (highly recomended! CP : 081936796207)


Gunung Rinjani, tertinggi kedua di Indonesia, 3.676 Mdpl. Orang bilang, itu tempat tinggal Dewi Anjani yang sangat cantik dan Saya percaya saat sudah melihatnya. Seringkali Saya berhenti jalan sebentar, berdiri diatas tanah Rinjani dengan menarik napas lebih dalam, hanya untuk mengaggumi betapa sempurnanya buatan Tuhan.

Tiga hari dua malam, satu gunung, durasi pendakian paling lama sejauh ini. Seru, banyak sekali pengalaman baru. Salah satunya ya karena hampir tidak menemukan teman sebangsa (selain porter) selama perjalanan. Super ndeso, baru sekali ini merasakan naik gunung ala bule yang penuh privilege, full stock makanan bergizi, tapi tetap hemat, yey!

Biar nggak terlalu panjang ceritanya, langsung Saya ringkas ya itinerary-nya :

DAY 1 : Desa - Plawangan Senaru

Desa Senaru - Pos 1, sekitar 45 menit. Menyelesaikan administrasi di loket, lalu melewati beberapa rumah penduduk. Setelah lewat gerbang selamat datang medannya mulai berubah jadi hutan. Suasananya sangat sejuk dan belum terlalu terjal.
Pos 1 - Pos 2, sekitar 90 menit. Suasananya masih hutan tropis, medan mulai terjal. Tidak begitu menanjak, tapi mulai bertemu batu-batu besar yang kadang licin dan cukup menguras tenaga. Sempat istirahat beberapa lama untuk makan siang. Biasanya jalan sampai lupa makan, sekarang enak aja tinggal makan, semua sudah disiapkan.
Pos 2 - Pos 3, sekitar 90 menit juga. Kok cepat? Iyalah. Mereka jalan santai, Saya berlari. Menderita rasanya. Para bule berkaki panjang itu jalannya cepat sekali, pak porter apalagi. Meski sudah berusaha jalan cepat, Saya selalu ketinggalan dibelakang dan akhirnya tetap jalan sendirian. Medannya semakin terjal, berbatu, dan agak licin. Sempat hujan juga tapi tidak lama.
Pos 3 - Pos 4, sekitar 2 jam. Medan mulai berbeda, semakin menderita. Pohon rimbun sudah tidak lagi memayungi kepala dari matahari. Lebih banyak semak-semak tinggi. Cokelat warnanya, gersang karena musim kemarau. Sepanjang jalan ditutupi debu tanah. Jika ada orang jalan didepan kita, debunya terbang kemana-mana. It's hard. Celana, sepatu, bahkan rambut Saya yang hitam pun jadi abu-abu muda, debu menempel semua. Tapi penderitaan hari pertama akan berakhir saat kita sampai di Pos 4 "Plawangan Senaru". Disanalah tempat bermalam yang aman, biasanya pendaki berebut mendirikan tenda didekat Segara. Saya bersyukur hari itu terlewati begitu cepat. Meski perjalanan panjang, tapi itu menyenangkan. Malam itu Saya tidur pulas setelah puas melihat bintang dan bulan yang sangat terang. 

























DAY 2 : Plawangan Senaru - Plawangan Sembalun

Hari paling menyenangkan selama pendakian. Bangun disambut cuaca pagi yang cerah dengan udara bersih dan sarapan yang istimewa sekali. Hari ini kami akan berjalan sampai ke bascamp di Plawangan Sembalun, sisi lain dari Gunung Rinjani. Menurut Pak Subuh, basecamp itu tidak begitu jauh dan Saya pasti akan senang karena akan mampir ke Segara Anak serta Hot Spring (namanya lupa). 

Sungguh, Rinjani itu layak jadi geopark. Medan pendakian yang bermacam-macam lengkap dengan banyak sekali spot yang bisa disinggahi bikin Saya lupa ini masih di bumi, belum di Surga. Overjoyed rasanya. Sumpah, I do in love with this mountain, so much! Coba cek foto dibawah biar percaya.

Plawangan Sembalun - Segara Anak, sekitar 2 jam. Setelah sedikit tanjakan sebagai pemanasan pagi, Saya sangat dimanjakan dengan medan yang hampir seluruhnya adalah turunan. Jika kemarin Saya selalu ketinggalan, hari ini Saya bisa gaya jalan duluan. Sebuah keuntungan kaki pendek, yey!
Segara Anak - Hot Spring, sekitar 30 menit. Seberapapun jauhnya, bodo amat. Berendam air hangat langsung dari sumbernya jadi fokus utama Saya. Ini pertama kalinya naik gunung dapat bonus hot spring. Walaupun saat itu matahari sudah tinggi, seharusnya bukan waktu yang tepat untuk berendam air panas, toh kami tetap menikmatinya. Sepi sekali, seperti Jacuzzi milik sendiri. Uuuuuhhhh, Speechless!
Segara Anak - Plawangan Sembalun, sekitar 3 jam. Dari hot spring, kami kembali ke tepi Segara Anak dan berhenti beberapa lama untuk makan siang. What a day! Tapi, setelah itu penderitaan segera dimulai kembali. Medan kali ini lumayan bikin ngos-ngosan. Panjang dan penuh tanjakan. Kembali jadi yang paling terakhir berjalan. Rasanya kok nggak sampai-sampai sih.. Menjelang jam 3 atau setengah 4 sore, akhirnya sampai di Plawangan Sembalun, merasa kurus dan langsung lapar lagi.

Berbeda dengan Senaru, Sembalun lebih didominasi pendaki lokal. AKHIRNYAA bisa ngobrol pakai bahasa Indonesia! Saya suka sekali menikmati sore itu. Berinteraksi dengan rekan-rekan pendaki lain, main-main ke tenda bapak-bapak porter, juga quality time bersama Nina. Saya jadi ngerti, para porter itu masih Satu keluarga. Mereka bekerja dari masih muda dan berhenti jika nanti sudah tidak kuat lagi mendaki. Upahnya tidak banyak, kalau ada pendaki atau turis baik hati barulah mereka dapat uang lebih dari tips yang diberi. Betapa hidup itu nggak mudah ya, bersyukur Gem!

Di Sembalun terlihat lebih kotor dan banyak sampah. Sedih. Kadang ada pendaki yang tidak mau repot bawa pulang sisa perbekalan mereka (kenapa nggak ditelan saja sekalian sama makanannya 😤). Kadang porter juga begitu. Semoga Saya dan semua yang baca jangan jadi salah satu dari si tukang nyampah ya. Amin.

Kira-kira jam 8 malam Saya dan Nina sudah tidur. Kami berdua akan lanjut ke summit dini hari nanti sedangkan empat orang yang lain akan stay di tenda.




























DAY 3 : Plawangan Sembalun - Summit - Desa Sembalun

Plawangan Sembalun - Summit, sekitar 3 jam (tapi rasanya lamaaaaaaa banget). Saya dan Nina mulai berjalan sekitar jam 2 dini hari. Ya Tuhan, ini medan terberat selama mendaki. Sungguh segala rintangan ada semua disini. Kerikil, pasir, tanjakan, semua ada. Sekali putus asa, Saya yakin nggak akan mau jalan lagi sampai summit. Jangan bawa apa-apa selain yang penting-penting saja dan start dimalam hari adalah pilihan terbaik! Saya nggak cerita deh bagaimana rasanya sampai di puncak dan melihat matahari terbit, mungkin foto dibawah lebih bisa mengungkapkannya. 
Pada akhirnya kalau cerita ini sedang teman-teman baca, artinya perjalanan ini sudah bukan lagi mimpi, kedua kaki Saya telah menginjak tanah di puncak Gunung Rinjani. It was perfect, haru sekali! 🙌 
Summit - Desa Sembalun, sekitar 4 jam. Setelah cukup puas menikmati puncak, Saya dan Nina turun ke basecamp. Keluarga Jerman itu sudah menunggu. Kami harus segera turun ke Desa Sembalun, mengakhiri perjalanan kali ini. Jalur yang berbeda dengan pada saat kami berangkat. Medannya banyak turunan, relatif lebih landai, sedikit pohon, dan berdebu. Saya ingat betul, ada jalan yang dinamakan Bukit Penyesalan karena pendaki pasti "menyesal" melewati jalan yang sulit sekali itu. Namun Sembalun punya pesona yang keren juga. Padang Savananya sangat indah. 











Dibelakang kami adalah summit tertinggi yang sering digunakan untuk foto. Kami sengaja turun sedikit, karena terlalu banyak orang berebut foto disana, bahaya.
















Saya berpisah dengan semuanya di Gate Desa Sembalun. Mereka akan kembali ke Mataram, sedangkan Saya ... I'm not sure. Random-nya kumat. Sepertinya akan lanjut ke Sumbawa. Hehehe.

Saya nggak menemukan transportasi menuju Sumbawa sampai akhirnya bertemu dengan sekelompok pemuda Sasak yang juga baru turun gunung. Mereka menawarkan tumpangan sampai ke daerah yang bisa dijangkau dengan transportasi ke Sumbawa, 90 menit dari Sembalun. Membantu Saya hingga menemukan elf untuk melanjutkan perjalanan ke Sumbawa. 

Baik sekali. Mereka berbagi tempat duduk di pick up dengan Saya bahkan mentraktir gorengan pas Saya lagi lapar-laparnya. Mereka ceritakan segala yang menarik tentang Lombok, kami pun sempat berhenti dijalan, membeli strawberry segar kesukaan Saya. Betapa cintanya Saya, disini beli 20 ribu dapat 12 kotak dan masih diberi bonus satu kresek. God bless you, petani lokal!

INFO :
* Kendaraan Umum dari Sembalun : Sewa pick up atau naik mobil Sayur menuju ke arah Terminal Mandalika (maksimal jam 2 Siang)





Terlalu banyak hal istimewa yang membuat Saya kagum dalam setiap perjalanan, terutama kebaikan hati orang-orang yang Saya jumpai. Untuk semuanya, dari hati yang paling dalam, Terima kasih.

Masih ada kebaikan yang Saya alami di Sumbawa, akan Saya tulis segera (mudah-mudahan saja).
Share
Tweet
Pin
Share
2 comments
Older Posts

About me

About Me

Free Individual Traveller. Not a good writer, yet a story teller.

Sketching @_proyeksampingan |a Part of @Tukar_Cerita (Podcast)

Follow Me

  • Podcast
  • Instagram
  • Facebook
  • Soundcloud
  • Google +

recent posts

Blog Archive

Facebook Twitter Instagram Soundcloud


FOLLOW ME @INSTAGRAM



Created with by ThemeXpose | Distributed By Gooyaabi Templates