• Home
  • About
  • Contact
    • Email
Instagram Facebook Google +
 #SoloTrip



Food becomes a part of travel, even when you least expect it ~
katanya sih gitu. Bagi sebagian orang memang belum lengkap rasanya travelling tanpa mencoba kuliner baru. Bahkan banyak juga yang tujuan perjalanannya justru culinary tourism.


Saya (belum) termasuk aliran itu. Meskipun bantet begini, sebenarnya dari kecil Saya nggak terlalu hobi makan. Tapi lain cerita kalau lagi travelling atau diajakin teman, mau makan apapun - dimanapun - kapanpun jadi lebih easy-going.


Ngomong-omong soal makan, mayoritas masyarakat Nepal beragama hindu, sama seperti di Bali. Mengonsumsi daging Sapi merupakan hal terlarang, sebagai pengganti, mereka makan daging kerbau (buff), ayam, pork, atau kadang ikan. Bagi teman-teman yang tidak makan pork, perlu lebih aware karena tidak ada keterangan kecuali kita bertanya. Opsi paling aman, dihampir seluruh tempat makan selalu menyediakan berbagai olahan sayur dengan bumbu kari.


Nah, selama perjalanan di Nepal ada banyak makanan yang Saya coba. Beberapa makanan khas, yang lainnya mungkin biasa ditemukan dimana saja. Sebagian enak, tapi ada juga yang sekedar nice-to-have. Inilah daftarnya :


Momo

Ini adalah makanan pembuka yang pertama kali Saya coba setelah tiba di Nepal. Referensi blog dan artikel manapun hampir tidak pernah absen mention makanan tradisional yang mirip Dimsum atau Siomay versi Nepal. Tampilannya sangat menarik. Kita bisa memilih Momo dengan isian daging buff, ayam, atau vegetarian lengkap disiram bumbu kari sebagai saus pendamping. Porsinya terlihat tidak begitu besar, tapi ternyata sangat kenyang. Perpaduan rasa kari dan rempah pada bagian dagingnya sangat kuat. Rempah juga menimbulkan rasa hangat yang pas untuk menghadapi suhu 5 derajat sore itu.

Proses pembuatan Momo


Menurut Ram Chandra, kedai yang menyediakan Momo paling juara ada di kawasan Dharahara, sekitar 15 menit dari Thamel dengan menggunakan taksi. Harganya NPR 90 - 150 per porsi. Untuk mencicipi Momo di kedai tersebut, kita perlu bersabar karena antriannya cukup panjang.


Dal Bhat

Suapan pertama saat mencicipi Dal Bhat, seketika mengingatkan Saya pada Nasi Padang. Namun bedanya bumbu rempah dan kari yang digunakan sangat kuat, khas masakan Nepal. Makanan ini sangat mudah ditemukan diberbagai tempat di Nepal, termasuk saat pendakian ke ABC.

Dal Bhat biasanya disajikan pada loyang besi yang diatasnya tertata rapi nasi, beberapa jenis sayur bumbu kari, sambal (Saya lupa sebutannya), dilengkapi lauk berupa ikan atau udang. Satu porsi Dal Bhat dapat dimakan untuk tiga orang seukuran Saya. Overall, rasanya bisa diterima. Satu-satunya masalah adalah Saya tidak suka nasi.




Dal Bhat Power!
Salah satu kedai Dal Bhat paling ramai di Thamel

Kathmandu Burger

Selama 10 hari di Nepal, ini adalah makanan yang paling sering Saya beli karena suka bangeeeeeet. Tastiest burger I've ever eaten. Sayang penampakan burgernya lupa difoto. Menu yang selalu Saya beli adalah Kathmandu Special Burger harganya NPR 280, atau sekitar 35 ribu rupiah. Lebih mahal memang dari harga seporsi Dal Bat, tapi worth it dengan tumpukan roti, buff ham, chicken, double chesee, sayur, dan bumbu yang supeeeer enak dan tebal!

Kedai kecil ini bisa ditemukan di kawasan Thamel, tidak terlalu jauh dari jalan besar sejajar dengan store The North Face. Selain rasa, pelayanan kedai ini juga sangat menyenangkan. Ah, jadi pengen ke Nepal lagi untuk sekedar beli burger.


Makanan favorit selama di Nepal

Susu Kerbau (Buff) & Chura

Dalam perjalanan dari Pokkhara menuju Kimche, Saya kelaparan karena belum sempat sarapan. Saat itu Saya minta pada driver taksi untuk mencari tempat makan apapun yang bisa kami temukan. Tidak mudah menemukan tempat makan saat menyusuri kaki gunung yang berkelok tersebut sampai akhirnya kami berhenti di sebuah rumah kecil. Kata driver taksi, rumah tersebut menjual Susu Kerbau murni yang enak sekali rasanya. Namun sepertinya Saya tidak akan menemukan banyak pilihan makanan.

 

So, Saya membeli segelas susu. Mencoba merasakan susu kerbau pertama kalinya dan ternyata rasanya enak meski tanpa gula sekalipun. Karena masih lapar, Saya minta pada penjualnya menyediakan makanan untuk breakfast. Penjual itu memberikan sepiring sayur dan semacam oatmeal yang ternyata flattened rice. Belakangan Saya tahu, nama makanan itu adalah Chura. Kombinasi makanan yang agak aneh rasanya, tapi tetap Saya habiskan demi pendakian. Untuk segelas susu dan Chura harganya NPR 150.

Chura - Vegetable
Susu Kerbau Murni

Buff Sekuwa

Bentuknya seperti sate tanpa bumbu kacang. Menggunakan daging kerbau membuat teksurnya lebih keras. Tapi bumbu sederhana yang meresap rata sampai kedalam membuat rasa Sekuwa ini lezat. Saya membelinya disekitar Phewa Lake, Phokkara pada malam hari yang dingin. Hanya semacam PKL tanpa kedai dipinggir jalan namun suasananya cukup nyaman. Harga 1 tusuk Sekuwa sekitar NPR 40.



Gurung Bread & Masala Tea

Penyuka Roti Maryam atau Roti Canai mungkin akan terkarik untuk mencoba makanan yang satu ini. Menurut Saya, ini lebih seperti pancake dengan adonan mirip kulit pisang goreng. Di ABC, Roti Gurung biasanya disajikan dengan topping madu atau omellete. Tapi karena adonan roti yang agak manis, partner terbaiknya adalah madu dan secangkir teh herbal ala Nepal, Masala Tea. Sejauh perjalanan, Gurung Bread adalah menu yang posrinya paling pas dengan ukuran perut Saya. Tidak terlalu sedikit dan tidak over seperti porsi makanan lainnya.

Foto ini diambil dari inotherpartsoftheworld.com

Sugar Mama Chhomrong - Best Chocolate Cake

Dari keseluruhan rute pendakian ABC, melewati Chhomrong adalah salah satu ujian terberat. Tapi dibalik ribuan tangga yang melelahkan, ada satu harta karun manis yang tersimpan. Herwian, salah satu teman blogger merekomendasikan kue ini untuk dicoba saat pendakian menuju ABC. Menurutnya, ini adalah sweetest temptation selama pendakian.

Bahkan salah satu artikel dalam majalah Times pernah menuliskan : " .. has become a legend for the magnanimous slices of warm, brownie-like chocolate cake she serves weary hikers going up to or coming down from base camp". Harga satu slice cake chocolate sekitar NPR 200. Mahal tapi worth it kok. Ada beberapa toko kue di Chhomrong, namun yang paling enak adalah Sugar Mama di Chhomrong Cottage. Kalian harus coba!


Sugar Mama ada di Cottage ini. Gambar ini diambil dari tripadvisor.

Menu Mevvah selama di Gunung

Berbeda dengan pendakian yang pernah Saya lakukan di Indonesia, selama pendakian di ABC makanan lebih terasa seperti di cafe daripada di gunung. FYI, semakin tinggi, harga makanan semakin mahal. Tapi tenang, porsi makanan sebenarnya sangat besar dan cukup untuk 2 kali makan. Kadang untuk mengakali, Saya membeli makanan yang bisa dibungkus untuk dimakan pada pemberhentian berikutnya.

Diantara semua makanan, yang paling bermanfaat membantu daya tahan adalah Garlic Soup (murah lagi :p). Sedangkan yang paling enaaaak adalah Tuna Pizza yang ditraktir sama Dave (mungkin karena gratis ya). Range harga makanan sekitar NPR 250 - 500 tergantung menunya.







Sebagai penutup, Saya ingin merekomendasikan makanan ringan murahan tapi Saya jamin kalian pasti ketagihan. Dan makanan itu adalaaaah ..... PRAW!




Saya agak menyesal kenapa nggak bawa pulang ke Indonesia. Harganya cuma NPR 20 per bungkus. Keripik kentang renyah dengan bumbu khas kari Nepal yang agak pedas tapi ... ah pokoknya enak!

Oiyaa, ada satu lagi makanan yang berkesan selama perjalanan. Rasanya nggak adil kalau tidak diceritakan. (Ini terakhir, janji)




Adalah sebungkus Nasi Lemak yang dibelikan Bapak dan keluarga Ami di Malaysia. Keluarga yang sama sekali tidak Saya kenal tapi baik hati sekali mau "menampung" saat transit selama 24 jam setelah kembali dari Nepal. Makanan yang bukan cuma rasa masakannya saja yang enak, tapi juga mampu membuat Saya merasakan kebaikan dan ketulusan orang lain :)

PS :

Terima kasih sudah membaca!


Share
Tweet
Pin
Share
11 comments

Salah satu hal yang membuat Saya begitu menikmati Solo Trip adalah adanya kesempatan untuk bertemu dan mengenal banyak orang baru dari segala penjuru dunia. Itu membuat Saya merasa hidup.

Memang, belum tentu semua orang yang Saya jumpai itu baik. Tapi kalau punya kesempatan bertemu dengan orang-orang yang baik, itu lebih dari sekedar beruntung, it means I'm blessed ❤

Seperti yang pernah Saya ceritakan pada part sebelumnya, kebanyakan orang yang Saya jumpai di Nepal sangat friendly dan helping. Tidak heran, ini kan negara wisata. Selain ramah, mereka rata-rata bisa berbahasa inggris meski tidak lancar. Saya ingin sedikit sharing pengalaman Saya berjumpa dengan orang-orang baru selama perjalanan di Nepal.

Ram Chandra

Couchsurfing mempertemukan Saya dengan Ram Chandra. Beberapa hari sebelum berangkat, Saya iseng membuat upcoming trip di website Couchsurfing. Niatnya cuma cari solo traveller lain yang bisa diajak share cost, tidak menyangka ada lebih dari 100 tawaran host lokal, atau sekedar meet up. Was-was juga nih sebenarnya.

Setelah stalking ini itu, Saya menemukan beberapa teman yang terpercaya, Ram salah satunya. Sejak masih di Surabaya, Saya sering tanya informasi tentang Nepal kepada Ram. Latar belakangnya sebagai karyawan disalah satu hotel di Nepal membuat pengetahuannya mengenai pariwisata cukup lengkap. Dia juga sangat baik, pintar, dan juga penganut Hindu yang taat. Bahkan saat di Nepal, dia banyak membantu Saya. Mencicipi Momo terlaris di kota adalah idenya, termasuk mengajak Saya ke Pasupatinath, tempatnya beribadah. Sayang sekali Saya tidak sempat menunjungi kampung halaman Ram yang dengan bangga selalu diceritakan : Nagarkot. 

It was a great pleasure that I met Ram. He threat me like family, truly represents an essence of Nepalese hospitality!


 

Vietnam Girls

Ingatan Saya memang seperti ikan Dory, gampang sekali lupa. Dan jujur, Saya lupa nama dua gadis Vietnam ini (karena terlalu sulit spelling-nya). Tapi Saya tidak mungkin lupa bagaimana kami bertemu saat di ruang tunggu KLIA. Hampir seluruh ruangan dipenuhi laki-laki berwajah India. Sepertinya cuma Saya satu-satunya peremuan yang duduk diantara mereka sampai beberapa waktu kemudian datang dua gadis itu dan duduk disebelah Saya. Lega rasanya ... Dari situ kami janjian untuk sharing perjalanan di Nepal meski ternyata cuma bersama dari bandara sampai ke Thamel saja :p


Driver taksinya mirip orang Indonesia ya, guys :)

Keluarga Rhomme

Perbaikan jalan dan kemacetan menuju Nayapool membuat schedule pendakian Saya menjadi terlambat. Keterlambatan itu mengakibatkan Saya masih berjalan saat hari sudah gelap. Tidak ada satupun orang yang lewat sejak matahari tenggelam. Saya berjalan tanpa sama sekali berpapasan dengan orang lain, ataupun melihat cahaya lampu dari kejauhan. Sangat sunyi. Saya bahkan hampir saja tersesat saat melewati jalan percabangan. Syukurlah saat itu Saya melihat cahaya lampu rumah yang sepertinya semakin lama semakin dekat dari tempat Saya berjalan.

Saya mengikuti cahaya itu hingga sampai ke sebuah desa  bernama Rhomme. Tidak banyak rumah disana, dan hanya ada 2 rumah yang diterangi cahaya lampu. Chhomrong, desa tujuan Saya masih sekitar 1 jam perjalanan lagi dan saat itu waktu sudah lewat jam 7 malam. Udara malam sangat dingin, Saya tidak ingin berjalan lagi. 

Rumah terang itu milik sebuah keluarga. Tidak satupun diantara mereka yang lancar berbahasa inggris. Namun, melihat muka Saya lelah, mereka berusaha menawarkan tumpangan untuk istirahat. Semangkuk garlic soup, dua butir telur rebus, dan segelas susu dibuatkan untuk Saya oleh sang mama. Mereka sederhana namun sangat hangat, it was my lucky day.

 

 

Bernard, Adrian Liew, Kaylee, and their Guide (also Saori)

Ribuan tangga Chhomrong menuju Dovan membuat pendaki berjalan lebih lambat apalagi dengan carrier besar dipunggung. Saat menemukan tempat teduh, biasanya Saya berhenti untuk istirahat. Disanalah Saya bertemu dengan Bernard, Adrian, dan Kaylee (dua rombongan berbeda) beserta para guide dan porter mereka. 

Selama dua hari kami berjalan hampir selalu beriringan, kami terlihat seperti rombongan. Kebetulan kami berhenti dan beristirahat di penginapan yang sama baik di Dovan maupun Machapurche. Bersama mereka, Saya jadi punya teman ngobrol  yang menyenangkan. Mengikuti guide mereka yang sudah profesional, setidaknya Saya dijamin tidak akan tersesat lagi. Sayang sekali, kami terpisah saat perjalanan turun setelah berhasil sampai di puncak ABC.


Tidak sedikit pendaki yang memandang Saya aneh karena sendirian berjalan menuju Annapurna Base Camp. Kadang sampai minta foto bareng -_- Mungkin karena postur Saya nggak terlalu meyakinkan jadi mereka heran. Saat diperjalanan menuju Kimche, Saya melewati seorang perempuan yang dari wajahnya sudah pasti orang Asia. Karena merasa senasib, Saya ajak dia bareng tapi dia menolak. Belakangan Saya tahu, dia menolak karena tidak bisa berbahasa inggris.

Kami bertemu lagi di Machapurche Base Camp (MBC). Saat itu Saya tidak kebagian kamar dipenginapan sehinggga harus sharing dengan orang lain. Wanita asal Jepang itu bernama Saori, kami menjadi teman sekamar di MBC. Meski lebih tua, Saori terlihat masih kuat sekali berjalan. Saori sangat pendiam, mungkin karena keterbatasan bahasa. Yang paling berkesan dari Saori, dia rajin mencatat segala hal yang ditemui dalam perjalanan dengan huruf kanji yang sangat rapi. Bahkan Saori mengambar apa yang dilihat pada catatannya karena tidak membawa kamera. Selain catatan, semalaman dia begadang menuliskan pesan diatas kartu pos bergambar view ABC untuk oleh-oleh. Unik.




David Finn

Hanya ada satu orang yang masih asik bekerja dengan laptopnya saat yang lain menikmati suasana atau makanan di MBC. David Finn, geologist asal Amerika yang dari Saya tiba sudah duduk sendirian di pojok ruangan serius mengerjakan sesuatu, mengingatkan Saya pada kerjaan kantor yang ditinggal sementara :"

Ketika ruangan semakin sepi, kami yang tersisa di ruang makan ngobrol-ngobrol menghabiskan waktu. Dave, kemudian bergabung saat kami membicarakan Indonesia. Menarik, ternyata Dave sering sekali datang ke Indonesia untuk penelitian tesisnya. Sejak bergabung, dia tidak pernah berhenti bercerita.

Ini bukan pertama kalinnya Dave mengunjungi ABC. Dia sudah beberapa kali ke Nepal dan kali ini dia akan stay selama satu bulan. Atas pengalaman dan sikapnya yang sangat menyenangkan, Saya mengajak Dave berjalan bersama untuk mengejar sunrise di ABC.

Jarak MBC ke ABC tidak terlalu jauh, medannya sedikit hilly tapi relatif landai. Udara pagi yang sangat dingin membuat jarak itu terasa jauuuuuh sekali. Beberapa kali Saya ingin sekali berhenti atau kembali lagi ke MBC. Luar biasa hampir beku meskipun baju sudah lapis enam. Sementara itu, Dave tetap tidak berhenti bicara, menceritakan bagusnya view di atas ABC, termasuk menyemangati Saya yang semakin sulit berjalan.

Sampai di ABC, Dave memberi Saya hadiah karena tidak menyerah. Secangkir Hot Chocolate, reward terbaik untuk menghangatkan badan yang rasanya sudah seperti es batu. Lagi-lagi merasa beruntung.

Setelah turun dari ABC, kami langsung turun menuju desa Bamboo dan bermalam disalah satu penginapan disana.  Hari berikutnya, kami melanjutkan perjalanan hingga ke Chhomrong. Selama perjalanan, Dave seperti radio yang terus bicara menceritakan banyak sekali hal-hal menarik dan seru. He has a good sense of humor as well. Perjalanan panjang jadi terasa sangat singkat. Kami berpisah di Chhomrong setelah farewell makan Tuna Pizza terenak di ABC.




Sebenarnya banyak sekali perjumpaan dengan orang-orang yang berkesan. Seperti saat bertemu dengan sepasang Kakek Nenek berusia lebih dari 80 tahun tapi jalannya lebih kuat dari Saya. Iya, 80 tahun tapi naik tangga kaya mau lari aja.

Saya juga senang sekali bertemu dengan anak-anak kecil. Untuk pergi ke Sekolah, setiap hari mereka melewati ribuan tangga Chhomrong yang seketika bikin kurus tanpa perlu diet. Anak-anak yang belum sekolah biasanya main masak-masakan, petakumpet, atau apalah.. sebenarnya sama dengan di Indonesia.


Si Kakek nggak mau difoto, Nenek aja yang mau :p
 




Ami dan teman-teman dari Malaysia

Sepuluh hari di Nepal, Saya jarang ketemu orang Indonesia (selain dua orang fotografer Jogja). Saya selalu excited setiap melihat wajah yang sepertinya sebangsa, selalu Saya sapa.Beberapa kali menyapa, Saya salah. Rombongan yang disapa ternyata berasal dari Malaysia. Kami sering sekali tidak sengaja bertemu. Saat pendakian, saat belanja di Thamel, dan saat di Bandara. Akhirnya kami pulang juga dengan pesawat yang sama.

Meski baru kenal, kami langsung akrab karena seumuran. Empat jam di pesawat, kami ngobrol, berbagi makanan, hingga akhirnya mereka mengajak Saya menginap dirumah mereka. Memang, waktu transit Saya cukup lama, 24 jam. Menunggu di airport  akan sangat membosankan. Saya setuju, toh belum pernah ke Malaysia juga.

Sampai di rumah Ami, Saya dikenalkan dengan keluarga besarnya. Sedang ada acara keluarga di rumahnya, jadi semua saudara berkumpul. Saya pikir akan awkward, diluar dugaan mereka menyambut dengan sangat hangat, padahal Saya datang dengan penampilan anak gunung yang korep abis.

Keluarga Ami baik sekali. Ibunya masih ada keturunan Jawa, jadi bisa sedikit berbahasa Jawa. Adik,kakak, dan Ayah Ami juga sangat menyenangkan. Saya sama sekali tidak merasa diperlakukan sebagai tamu, melainkan sebagai keluarga. Sebelum pulang, mereka membelikan Nasi Lemak yang enak sekaliiiiiiiiiii. Meskipun tidak suka nasi, Saya makan semua sampai habis sebagai tanda terima kasih atas ketulusan mereka.
 

Bertemu dengan mereka tidak hanya membuat saya merasa percaya, Saya akan terus dihubungkan dengan orang-orang baik selama Saya pergi dengan niat yang baik. Bertemu mereka sedikit banyak juga telah mengubah hidup dan cara Saya berpikir. Kita bisa belajar dari siapapun kan?

Yang pasti, Saya nggak pernah merasa sendirian meskipun pergi sendiri. So, don't worry ..


Terima kasih sudah membaca :) 

Share
Tweet
Pin
Share
7 comments

Namaste!

Sebuah sapaan yang akan sangat sering diucapkan saat kita berada di Nepal. Dulu Saya pikir itu hanya sebatas hi, atau have a nice day. Namun ternyata Namaste memiliki arti yang bagus dan lebih dalam :
 
"My soul honors your soul. I honor the place in you where the entire Universe resides.  I honor the light, love, truth, beauty and peace within you, because it is also within me. In sharing these things we are united, we are the same, we are one."


Btw, cerita perjalanan ke Nepal ini akan cukup panjang, so fasten your seatbelt and let's start the journey.

***********

Berangkat ke Nepal sendirian, meski dengan bekal persiapan dan keberanian seadanya, mungkin termasuk keputusan terbaik yang pernah Saya buat. Perjalanan yang tidak akan pernah disesali karena Saya telah "membeli" pengalaman mahal yang membuat Saya banyak belajar dan semakin mengenal diri Saya sendiri *tsaaah.

Perjalanan tidak selalu menyenangkan, kadang unpredictable. Saya nggak akan pernah lupa gimana rasanya nyasar malam-malam dan nyaris beku diketinggian lebih dari 4.000 mdpl saat mendaki Annapurna Base Camp (ABC). Tanpa guide, tanpa porter, tanpa siapapun.

Annapurna adalah salah satu 'anggota' deretan pegunungan Himalaya. Menurut beberapa referensi, gunung ini the tenth highest and most dangerous mountain in the world. Puncak tertingginya 8.091 mdpl, tapi Saya cuma sampai puncak ABC saja kok atau setinggi 4.310 mdpl. Sejauh ini, ABC jadi puncak tertinggi (dan terdingin) yang pernah saya injak. Lebih tinggi dari Rinjani (bahkan Kerinci) dan hampir menyamai Cartenz di Papua.

Pemandangan Himalaya dari pesawat

Pre Trekking : Surabaya - Kuala Lumpur - Kathmandu, Nepal

Perjalanan ke Annapurna Base Camp ini cukup panjang, butuh effort, dan biaya yang lumayan (cek rinciannya disini). Diawali dengan flight dini hari dari Surabaya - Kuala Lumpur sekitar 2,5 jam. Tidak ada penerbangan direct dari Indonesia ke Nepal sehingga harus transit sekitar 3 jam, lalu lanjut penerbangan Kuala Lumpur - Kathmandu, Nepal sekitar 4,5 jam. Kalau bisa memilih, duduklah dibangku dekat jendela disebelah kanan. Sekitar 30 menit sebelum landing, kita bisa menikmati indahnya Sagarmatha, atau yang lebih dikenal dengan Everest.
Setelah penerbangan panjang, sekitar jam setengah 3 sore Saya sampai di Tribhuvan International Airport, Kathmandu. Jangan buru-buru senang saat sampai, karena ada sederet to do list yang harus diselesaikan agar perjalanan 10 hari kedepan bebas hambatan, yaitu :

Urus Visa on Arrival : Tinggal antri, isi form di mesin, lalu bayar 25 USD untuk 15 hari. Setelah itu tinggal pemeriksaan imigrasi saja.
Tukar Uang : Sebenarnya kalau punya ATM berlogo visa ini tidak perlu dilakukan, toh kursnya masih lebih bagus saat kita tarik tunai lewat ATM. Tapi, boleh saja jika ingin tukar seperlunya. Berdasarkan pengalaman, best deal tukar uang ada di Pokhara.
Beli Kartu Telepon : Ini juga conditional tergantung kebutuhan. Saya beli kartu seharga 600 NPR, paket data 2,5 GB untuk 30 hari yang sangat bisa diandalkan untuk cari info jalan atau booking hotel.
Urus Permit :  Ijin pendakian ada 2 macam, TIMS dan ACAP  dapat diurus di tourism center Kathmandu atau Pokkhara, buka jam 9 - 5 sore. Kalau sempat, better mengurus di Kathmandu saja.
Beres mengurus itu semua, Saya menuju hotel di kawasan Thamel untuk istirahat dan prepare perjalanan berikutnya.




Semudah ini urus visa-nya

Tourist Service Center Kathmandu, tempat mengurus ACAP dan TIMS
Ini dia permit-nya!

Pre Trekking : Kathmandu - Pokkhara

Matahari di Nepal baru muncul sekitar jam 6.30 pagi, padahal Saya bangun sejak jam 5 menunggu diatas rooftop besama dinginnya udara subuh. Saat itu kira-kira suhunya 2-3 derajat celcius. Aktivitas terlihat lebih sibuk saat matahari mulai tinggi. Check list Saya hari ini adalah lanjut mengurus ACAP yang belum selesai lalu melanjutkan perjalanan menuju Pokkhara.

Perjalanan ke Pokkhara selama 10 jam (normalnya hanya 7 jam tanpa macet) Saya lalui bersama dengan 2 orang fotografer Indonesia asli Jogja. Secara tidak sengaja kami bertemu di Tourism Service Center dan kebetulan tujuannya sama-sama ke Pokkhara. Kami menyewa mobil dan berbagi cost. Meskipun pricey, tapi setidaknya itu adalah pilihan yang nyaman untuk perjalanan yang penuh jalan rusak dan kemacetan.








Perjalanan dari Kathmandu ke Pokkhara
Tiba Pokkhara hari sudah gelap. Saya menginap di salah satu hotel yang sangat dekat dengan Phewa Lake. Sisa hari itu Saya gunakan untuk persiapan pendakian, sewa perlengkapan mendaki (yang sebenarnya lebih murah sewa di Kathmandu), serta booking taksi untuk melanjutkan perjalanan panjang esok hari.
Source : herwian.wordpress.com
Overview diatas menjadi patokan estimasi perjalanan, namun realitanya Saya berangkat dari jalur berbeda yang lebih cepat.
 

Day 1 : Pokkhara - Kimche - Rhome

Dari Pokkhara kita masih harus menempuh perjalanan 2 jam menuju Nayapool. Itu jika kalau kita pergi dengan taksi, kalau menggunakan bis bersabarlah untuk perjalanan hingga dua kali lipat lebih lama. Perjalanan dari Nayapool ke Kimche berupa jalanan umum yang dilewati kendaraan, bahkan bus. Banyak pendaki yang mulai jalan kaki dari Nayapool, tapi saran Saya, untuk menghemat tenaga dan waktu gunakan taksi untuk menuju Kimche, perjalanan sekitar 1 jam.

Perbaikan disepanjang jalan membuat perjalan Saya terhambat. Padahal sekitar jam 8 pagi saya sudah berangkat. Driver taksi pun sudah menyetir seperti game crazy taxi, tapi kami baru tiba di Kimche jam 1 siang. Sebelum sampai ke Kimche ada loket pemeriksaan permit, setelah mendapatkan stempel, kita boleh melanjutkan perjalanan.

TIPS :

Time management sangat penting untuk diperhatikan. Selama pendakian, Saya menetapkan target untuk berjalan rata-rata 7 jam perhari melewati 2-4 desa. Agar terhindar dari Altitude Mountain Sickness (AMS) sebaiknya berjalan tidak terlalu cepat, tidak terlalu pelan. Lagipula, perjalanan panjang itu menawarkan pemandangan yang luar biasa. Sayang jika kita terlalu terburu-buru.




 


Saya akui, manajemen waktu Saya buruk dihari pertama.Kendala diperjalanan membuat Saya telat memulai pendakian. Sekitar pukul 1 siang baru mulai jalan dan sempat berhenti cukup lama untuk makan siang. Dalam kondisi seperti itu, Saya masih nekat ingin menyelesaikan target 5 desa dihari pertama. Sounds crazy! Berikut rangkumannya :
Kimche - Ghandruk : Sebuah pemanasan yang smooth. Medannya cukup terbuka dan landai. Sekitar 90 menit berjalan, Saya sampai di Gandhruk. Saya berhenti untuk makan siang dan melanjutkan perjalanan kembali.

Ghandruk - Khomrong Ganda : Selepas kawasan pemukiman, Saya mulai sedikit memasuki hutan. Tidak lama kemudian, Saya kembali berjalan dikawasan pemukiman. Saya berusaha berjalan cepat agar bisa sampai sebelum gelap mumpung trek tidak sulit.
 


 


Khomrong Ganda - Khomrong Khola : Ujian perjalanan hari pertama bermula disini. Setelah dimanjakan dengan view menawan, rute perjalanan berbelok menuju hutan. Turunan panjaaaaang seperti tidak berujung Saya lalui. Jarang sekali ada orang yang berpapasan selama perjalanan, mungkin karena hari sudah mulai gelap. Meski panjang, tapi Saya bisa berjalan cepat karena hampir tidak ada tajakan sama sekali. Tapi Saya curiga, kemudahan ini harus dibayar mahal dirute berikutnya.

Hampir tersesat

Khomrong Khola - Rhome : Saat menemukan desa ditepi sungai yang sangat besar, itu merupakan desa Khomrong Khola. Melihat waktu sudah hampir jam 6 sore, seharusnya Saya berhenti dan bermalam disana saja. Saya malah lanjut berjalan dengan tujuan ke Chhomrong. Kecurigaan Saya terbukti. Turunan panjang kini dibalas tanjakan tanpa ampun. Dalam keadaan jalan yang gelap dan tidak ada satupun orang yang lewat, Saya berjalan sendirian berharap segera sampai. 

Hampir dua jam berjalan, sama sekali belum terlihat tanda kehidupan pemukiman. Sinyalpun tidak ada. Saya benar-benar hanya mengadalkan jejak kaki samar-samar yang belum tentu arahnya benar. Hari semakin malam, udara semakin dingin, dan Saya lapar. Sempat terlihat cahaya lampu dari kejauhan, Saya pede cahaya itu dari desa Chhomrong. Saya berusaha berjalan mendekati tempat cahaya itu. Sampai disebuah simpangan, Saya memilih jalan yang salah. Saya merasa tersesat saat mendengar suara arus sungai yang semakin kencang dan menyadari cahaya tadi semakin jauh. 

Saya kembali menelusuri jalan sampai ke persimpangan tadi dan lanjut berjalan ke arah sebaliknya. Bersyukur sepuluh menit kemudian akhirnya Saya menemukan beberapa rumah, sumber cahaya itu. Sebuah keluarga menyapa Saya dengan ramah. Mereka bilang desa itu bernama Rhome, 30 menit sebelum Chhomrong. Mereka menawari Saya untuk menginap, karena hari sudah gelap. Saya tidak ingin berjalan lagi, Saya terima tawaran menginap dirumah keluarga baik hati malam itu.



 


Day 2 : Rhome - Chhomrong - Dovan

Secangkir susu kerbau buatan mama (keluarga Rhome) membangunkan Saya pagi itu. Saya masih jetlag setelah semalam hampir nyasar. Mama bilang sungai yang Saya dengar kemarin itu jurang, Saya jadi deg-degan. Puji Tuhan masih dilindungi. Setelah beres-beres, Saya pamit untuk melanjutkan perjalanan. Hari ini akan ada 4 desa yang harus Saya lewati. Keluar dari rumah Mama, Saya langsung takjub melihat pemandangan macam kalender secara langsung pakai mata sendiri. Sambil jalan Saya cengar-cengir terus saking senangnya.





Rhome - Chhomrong : Dengan semangat dan tenaga yang masih full, perjalanan 30 menit terasa sangat cepat dan lancar. Medannya aman, cenderung landai atau sedikit menurun.  Saya sempat menjumpai gedung sekolah diatas gunung. Impressive. Tiba di Chhomrong Saya langsung mencari toko kue incaran : Sugar Mama. Saya berhenti sebentar untuk breakfast.
Chhomrong - Shinuwa : Pos pemeriksaan permit yang kedua berlokasi disamping toko roti Sugar Mama. Saat berangkat dan kembali, kita wajib singgah untuk melapor. Penderitaan selanjutnya akan dimulai pada rute ini. Awalnya sih enak, ratusan anak tangga turunan yang tidak terlalu melelahkan. Apalagi matahari masih belum begitu terik.

Belajar dari rute kemarin, bahwa setiap turunan adalah tanjakan yang tertunda. Itulah yang terjadi setelah melewati jembatan. Ribuan anak tangga berjajar rapi, dari jauh terlihat panjang sekali. It was the worst part. Pas lagi break, sepasang kakek nenek penduduk lokal lewat dan coba mengajak bicara. Mereka bisa jalan lebih cepat padahal mungkin usianya sudah 80an. Bahkan si Kakek sempat lho menawarkan banntuan untuk membawa carrier Saya. Duh, Saya maluuuuu.
 

 


Shinuwa - Bamboo : Sampai di Shinuwa, Saya makan lagi. Rupanya barisan anak tangga tadi benar-benar menguras habis tenaga Saya. Kali ini Saya harus lebih disiplin dengan waktu. Saya tidak mau mengulang pengalaman tersesat lagi. Setelah 40 menit break, Saya mulai jalan lagi. Waktunya say goodbye pada tangga karena rutenya kembali masuk ke hutan. Yess!
Bamboo - Dovan : Saya merasa rute perjalanan dari Shinuwa sampai ke Dovan adalah rute yang paling mudah. Yang pasti tidak ada tangga yang menyiksa. Medannya lebih kearah hutan, beberapa kali melewati sungai kecil. Jalannya kadang berbatu namun sangat teduh. Selepas keluar dari hutan, kita akan menjumpai desa bernama Dovan. Tidak terasa Saya sampai lebih cepat dari perkiraan. Saya memilih penginapan yang cukup nyaman disini, juga memiliki sisa waktu yang sangat cukup untuk recovery.




Kamar saya di Dovan, NPR 200
Kamar mandi yang cukup bersih. Untuk hot shower harus membayar NPR 150

Day 3 : Dovan - Machhapuchhre Base Camp (MBC)

Suhu udara di Dovan terasa jauh lebih dingin. Saya kesulitan tidur nyenyak meskipun baju sudah lapis tiga plus pakai sleeping bag. Semalaman berusaha tidur sambil berharap matahari segera terbit. ABC semakin dekat, Saya harus lebih semangat. Sudah sejauh ini. 

Sejujurnya pada tahap ini Saya mulai kehilangan tenaga. Penyebab utamanya suhu yang luar biasa memasuki musim dingin. Biasanya dikantor, dengan suhu AC sekitar 18 derajat saja Saya selalu pakai jaket. Nah, selama di Nepal suhu hampir selalu minus, terutama saat malam hari.

Dovan - Himalaya : Secara umum, medan yang Saya hadapi pagi ini relatif aman. Hampir sama dengan rute Shinuwa - Dovan kemarin, melewati hutan. Namun disana, saat pagi sinar matahari terhalang oleh bukit yang tinggi. Saya harus sabar menghadapi suhu yang masih minus, padahal sudah hampir jam 10 pagi. Saya berusaha terus bergerak dan hanya berhenti jika sudah sampai agar badan tetap hangat.
Himalaya - Deurali : Sesaat setelah sampai di Himalaya, sinar matahari mulai muncul. Suhu terasa lebih hangat dan Saya merasa jauh lebih baik. Medan perjalanan Himalaya ke Deurali ternyata cukup menantang. Melewati tanah berbatu yang kering dan terjal. Terkadang sangat menanjak, kemudian turun. Suhu yang semula dingin secara drastis berubah menjadi sangat hangat. Fisik Saya perlu waktu untuk penyesuaian.

  


 





Deurali - Machhapuchhre Base Camp (MBC) : Saya mengambil waktu untuk istirahat di Deurali. Makan sebanyak mungkin dan minum yang hangat. Saya sempat ragu untuk melanjutkan perjalanan sampai ke MBC karena merasa kurang fit. Tapi saat itu hari masih sangat terang. Kalaupun waktu itu Saya terlalu cepat berhenti dan tidur, resikonya Saya akan mengalami AMS.

Suasana di ruang makan MBC

Saya putuskan untuk lanjut jalan pelan-pelan sambil menikmati view yang luar biasa. Syukurlah pemandangan idah itu secara tidak langsung memotivasi Saya untuk segera sampai di MBC. Dengan tempo yang jauh lebih lambat dari biasanya, Saya akhirnya sampai di MBC disambut panorama menjelang sunset.

Kondisi fisik Saya sore itu sudah terasa sangat membaik. Setelah makan dan ngobrol dengan pendaki lain, Saya segera mencoba istirahat. Malam itu Saya tidur menggunakan 4 lapis baju, 2 lapis kaos kaki dan kaos tangan, serta sleeping bag. Separah itu suhu MBC di malam hari. Thank's God, Saya bisa tidur dengan cukup nyenyak meksi tetap kedinginan.

Day 4 : MBC - Annapurna Base Camp (ABC) - Bamboo

Sekitar jam 4 dini hari, Saya bangun dan bersiap jalan lagi. Akhirnya hari yang paling Saya tunggu setelah melintasi perjalanan panjang datang juga. Super excited! Tidak sabar untuk segera bertemu tujuan Saya, The Great Annapurna Base Camp.


MBC - ABC : Tapi ........... perasaan itu seketika terbang ditiup angin saat Saya keluar dari kamar penginapan. Brrrrrr... dingiiiiiin. Menggunakan baju 6 layers, suhu minus 18 derajat masih mampu menembus sampai ke kulit. Saya nggak yakin bisa berjalan terus sampai ke ABC. Benar-benar 90 menit paling sulit yang pernah Saya alami.

Beruntung dalam perjalanan Saya ditemani Dave, pendaki asal US. Beberapa kali hampir give up, tapi nggak jadi karena termotivasi oleh Dave yang nggak berhenti cerita tentang pemandangan sunrise diatas sana. Saat mendaki dalam suhu ekstrim begini, berhenti bukanlah ide yang bagus. Lebih baik terus pasksa diri untuk bergerak, karena sekali berhenti kita akan merasa lebih buruk dan berat saat diterpa angin. Another bad news, Saya nggak bisa minum selama jalan karena air yang Saya bawa beku jadi es. Bisa bayangin kan betapa dinginnya pagi itu?



Begitu langit mulai terang dan matahari muncul, perkataan Dave jadi nyata. Semangat yang mulai beku jadi cair, luluh menyaksikan kemegahan didepan mata. I got goosebump, kagum ciptaan Tuhan kereeeeeeen banget! Bahkan masih bisa merinding pas nulis ini. Words can't describe how happy I was.

Sampai di ABC, Dave memberi Saya hadiah karena tidak menyerah. Secangkir Hot Chocolate, reward terbaik untuk menghangatkan badan yang rasanya sudah seperti es batu.

Ternyata ini yang membuat carrier Saya berat. Saya bawa sekeluarga didalam tas .. *krik krik.
ABC - Bamboo : Merasa cukup puas dengan ABC, sekitar jam 11 siang Saya mulai turun. Setelah meraih tujuan, perjalanan berikutnya terasa lebih mudah. Hehe, sombong. Rutenya hanya kebalikan dari rute kemarin. Jika untuk naik butuh waktu sekitar 7-8 jam, turun hanya membutuhkan waktu sekitar 4 jam. Saya bisa lebih cepat tiba di Bamboo sebelum matahari tenggelam. Setelah melewati pendakian yang berat tadi pagi, Saya pasti akan tidur nyenyak malam ini.

TIPS :

Menghadapi udara dingin memang tidak mudah bagi sebagian orang. Indonesia yang mayoritas beriklim tropis membuat kita tidak terbiasa dengan udara dingin apalagi sampai suhu minus. Agar tubuh kita dapat menyesuaikan dengan suhu tersebut, pakai lapisan pakaian secara bertahap. Contoh, pada hari pertama di Saya memakai 3 layer pakaian, 4 layer dihari berikutnya, dan 6 layer pada daerah yang paling tinggi atau paling dingin. Ada lagi. Jangan lupa bawa Tolak Angin, lebih bagus lagi kalau diseduh dengan air panas.


Day 5 : Bamboo - Jhinnu

Mempersingkat cerita, hari kelima tinggal melanjutkan perjalanan turun saja. Mengulangi rute yang sama dari Bamboo sampai ke Chhomrong, stop disana untuk makan siang. Dari Chhomrong Saya berniat melanjutkan sampai ke Siwai. Sebenarnya sih bisa, kalau nggak tergoda untuk berendam air panas alami di Jhinu Danda.





Dari Chhomrong ke Jhinu kita akan kembali melewati barisan anak tangga, untung nggak nanjak. Pejalanan dari sini sudah tidak melewati jalan yang sama seperti kemarin. Jhinu terletak diantara Chhomrong dan Siwai. Desa ini terkenal dengan natural hot spring-nya yang terletak ditepi sungai. Kalau masih ada waktu, tidak ada salahnya coba berendam agar tubuh dan pikiran kita rileks.

Penginapan di Jhinu


Natural hot spring Jhinu Danda. Fotonya jelek, pakai kamera HP

 Day 6 : Jhinnu - Siwai - Pokkhara

Hari terakhir pendakian rasanya bingung harus senang atau sedih. Senang karena 'penderitaan' akan segera berakhir, dan sedih karena artinya liburan pun akan segera selesai. Saya sengaja makan pagi lebih lama sambil menikmati Jhinu sebelum lanjut perjalanan keluar dari kawasan ABC ini. Berjalan santai selama kurang lebih tiga jam, melewati New Bridge hingga akhirnya tiba ditempat pemberhentian bus Siwai. Pendakian Saya selesai di Siwai saat matahari berada tinggi diatas kepala.



 
 
 

Menumpang bus sederhana full music, Saya melanjutkan perjalanan ke Pokkhara. Selama enam jam bus ini melaju kencang diatas jalan yang bumpy akibat lubang dan rusak. Bersamaan dengan bus yang melintas keluar dari Nayapool, langit mulai mendung dan gerimis turun.

Saya memandangi jalan yang dilewati sambil terus mengucapkan syukur dalam hati untuk pengalaman ini. Melewati kejadian demi kejadian yang penuh kejutan. Menahan beban berat dipunggung dan melawan dinginnya udara yang semakin tinggi semakin tipis. Kedua kaki Saya akhirnya bisa meninjak salju di Himalaya. Sesuatu yang bahkan tidak pernah terbayang sebelumnya.





Kalau kalian baca sampai kalimat ini, terima kasih ya. Saya tahu part ini panjaaaang, fotonya juga banyak sekali kaya flickr. Tapi semoga bermanfaat ya!
Share
Tweet
Pin
Share
20 comments
Older Posts

About me

About Me

Free Individual Traveller. Not a good writer, yet a story teller.

Sketching @_proyeksampingan |a Part of @Tukar_Cerita (Podcast)

Follow Me

  • Podcast
  • Instagram
  • Facebook
  • Soundcloud
  • Google +

recent posts

Blog Archive

Facebook Twitter Instagram Soundcloud


FOLLOW ME @INSTAGRAM



Created with by ThemeXpose | Distributed By Gooyaabi Templates