• Home
  • About
  • Contact
    • Email
Instagram Facebook Google +
 #SoloTrip



Food becomes a part of travel, even when you least expect it ~
katanya sih gitu. Bagi sebagian orang memang belum lengkap rasanya travelling tanpa mencoba kuliner baru. Bahkan banyak juga yang tujuan perjalanannya justru culinary tourism.


Saya (belum) termasuk aliran itu. Meskipun bantet begini, sebenarnya dari kecil Saya nggak terlalu hobi makan. Tapi lain cerita kalau lagi travelling atau diajakin teman, mau makan apapun - dimanapun - kapanpun jadi lebih easy-going.


Ngomong-omong soal makan, mayoritas masyarakat Nepal beragama hindu, sama seperti di Bali. Mengonsumsi daging Sapi merupakan hal terlarang, sebagai pengganti, mereka makan daging kerbau (buff), ayam, pork, atau kadang ikan. Bagi teman-teman yang tidak makan pork, perlu lebih aware karena tidak ada keterangan kecuali kita bertanya. Opsi paling aman, dihampir seluruh tempat makan selalu menyediakan berbagai olahan sayur dengan bumbu kari.


Nah, selama perjalanan di Nepal ada banyak makanan yang Saya coba. Beberapa makanan khas, yang lainnya mungkin biasa ditemukan dimana saja. Sebagian enak, tapi ada juga yang sekedar nice-to-have. Inilah daftarnya :


Momo

Ini adalah makanan pembuka yang pertama kali Saya coba setelah tiba di Nepal. Referensi blog dan artikel manapun hampir tidak pernah absen mention makanan tradisional yang mirip Dimsum atau Siomay versi Nepal. Tampilannya sangat menarik. Kita bisa memilih Momo dengan isian daging buff, ayam, atau vegetarian lengkap disiram bumbu kari sebagai saus pendamping. Porsinya terlihat tidak begitu besar, tapi ternyata sangat kenyang. Perpaduan rasa kari dan rempah pada bagian dagingnya sangat kuat. Rempah juga menimbulkan rasa hangat yang pas untuk menghadapi suhu 5 derajat sore itu.

Proses pembuatan Momo


Menurut Ram Chandra, kedai yang menyediakan Momo paling juara ada di kawasan Dharahara, sekitar 15 menit dari Thamel dengan menggunakan taksi. Harganya NPR 90 - 150 per porsi. Untuk mencicipi Momo di kedai tersebut, kita perlu bersabar karena antriannya cukup panjang.


Dal Bhat

Suapan pertama saat mencicipi Dal Bhat, seketika mengingatkan Saya pada Nasi Padang. Namun bedanya bumbu rempah dan kari yang digunakan sangat kuat, khas masakan Nepal. Makanan ini sangat mudah ditemukan diberbagai tempat di Nepal, termasuk saat pendakian ke ABC.

Dal Bhat biasanya disajikan pada loyang besi yang diatasnya tertata rapi nasi, beberapa jenis sayur bumbu kari, sambal (Saya lupa sebutannya), dilengkapi lauk berupa ikan atau udang. Satu porsi Dal Bhat dapat dimakan untuk tiga orang seukuran Saya. Overall, rasanya bisa diterima. Satu-satunya masalah adalah Saya tidak suka nasi.




Dal Bhat Power!
Salah satu kedai Dal Bhat paling ramai di Thamel

Kathmandu Burger

Selama 10 hari di Nepal, ini adalah makanan yang paling sering Saya beli karena suka bangeeeeeet. Tastiest burger I've ever eaten. Sayang penampakan burgernya lupa difoto. Menu yang selalu Saya beli adalah Kathmandu Special Burger harganya NPR 280, atau sekitar 35 ribu rupiah. Lebih mahal memang dari harga seporsi Dal Bat, tapi worth it dengan tumpukan roti, buff ham, chicken, double chesee, sayur, dan bumbu yang supeeeer enak dan tebal!

Kedai kecil ini bisa ditemukan di kawasan Thamel, tidak terlalu jauh dari jalan besar sejajar dengan store The North Face. Selain rasa, pelayanan kedai ini juga sangat menyenangkan. Ah, jadi pengen ke Nepal lagi untuk sekedar beli burger.


Makanan favorit selama di Nepal

Susu Kerbau (Buff) & Chura

Dalam perjalanan dari Pokkhara menuju Kimche, Saya kelaparan karena belum sempat sarapan. Saat itu Saya minta pada driver taksi untuk mencari tempat makan apapun yang bisa kami temukan. Tidak mudah menemukan tempat makan saat menyusuri kaki gunung yang berkelok tersebut sampai akhirnya kami berhenti di sebuah rumah kecil. Kata driver taksi, rumah tersebut menjual Susu Kerbau murni yang enak sekali rasanya. Namun sepertinya Saya tidak akan menemukan banyak pilihan makanan.

 

So, Saya membeli segelas susu. Mencoba merasakan susu kerbau pertama kalinya dan ternyata rasanya enak meski tanpa gula sekalipun. Karena masih lapar, Saya minta pada penjualnya menyediakan makanan untuk breakfast. Penjual itu memberikan sepiring sayur dan semacam oatmeal yang ternyata flattened rice. Belakangan Saya tahu, nama makanan itu adalah Chura. Kombinasi makanan yang agak aneh rasanya, tapi tetap Saya habiskan demi pendakian. Untuk segelas susu dan Chura harganya NPR 150.

Chura - Vegetable
Susu Kerbau Murni

Buff Sekuwa

Bentuknya seperti sate tanpa bumbu kacang. Menggunakan daging kerbau membuat teksurnya lebih keras. Tapi bumbu sederhana yang meresap rata sampai kedalam membuat rasa Sekuwa ini lezat. Saya membelinya disekitar Phewa Lake, Phokkara pada malam hari yang dingin. Hanya semacam PKL tanpa kedai dipinggir jalan namun suasananya cukup nyaman. Harga 1 tusuk Sekuwa sekitar NPR 40.



Gurung Bread & Masala Tea

Penyuka Roti Maryam atau Roti Canai mungkin akan terkarik untuk mencoba makanan yang satu ini. Menurut Saya, ini lebih seperti pancake dengan adonan mirip kulit pisang goreng. Di ABC, Roti Gurung biasanya disajikan dengan topping madu atau omellete. Tapi karena adonan roti yang agak manis, partner terbaiknya adalah madu dan secangkir teh herbal ala Nepal, Masala Tea. Sejauh perjalanan, Gurung Bread adalah menu yang posrinya paling pas dengan ukuran perut Saya. Tidak terlalu sedikit dan tidak over seperti porsi makanan lainnya.

Foto ini diambil dari inotherpartsoftheworld.com

Sugar Mama Chhomrong - Best Chocolate Cake

Dari keseluruhan rute pendakian ABC, melewati Chhomrong adalah salah satu ujian terberat. Tapi dibalik ribuan tangga yang melelahkan, ada satu harta karun manis yang tersimpan. Herwian, salah satu teman blogger merekomendasikan kue ini untuk dicoba saat pendakian menuju ABC. Menurutnya, ini adalah sweetest temptation selama pendakian.

Bahkan salah satu artikel dalam majalah Times pernah menuliskan : " .. has become a legend for the magnanimous slices of warm, brownie-like chocolate cake she serves weary hikers going up to or coming down from base camp". Harga satu slice cake chocolate sekitar NPR 200. Mahal tapi worth it kok. Ada beberapa toko kue di Chhomrong, namun yang paling enak adalah Sugar Mama di Chhomrong Cottage. Kalian harus coba!


Sugar Mama ada di Cottage ini. Gambar ini diambil dari tripadvisor.

Menu Mevvah selama di Gunung

Berbeda dengan pendakian yang pernah Saya lakukan di Indonesia, selama pendakian di ABC makanan lebih terasa seperti di cafe daripada di gunung. FYI, semakin tinggi, harga makanan semakin mahal. Tapi tenang, porsi makanan sebenarnya sangat besar dan cukup untuk 2 kali makan. Kadang untuk mengakali, Saya membeli makanan yang bisa dibungkus untuk dimakan pada pemberhentian berikutnya.

Diantara semua makanan, yang paling bermanfaat membantu daya tahan adalah Garlic Soup (murah lagi :p). Sedangkan yang paling enaaaak adalah Tuna Pizza yang ditraktir sama Dave (mungkin karena gratis ya). Range harga makanan sekitar NPR 250 - 500 tergantung menunya.







Sebagai penutup, Saya ingin merekomendasikan makanan ringan murahan tapi Saya jamin kalian pasti ketagihan. Dan makanan itu adalaaaah ..... PRAW!




Saya agak menyesal kenapa nggak bawa pulang ke Indonesia. Harganya cuma NPR 20 per bungkus. Keripik kentang renyah dengan bumbu khas kari Nepal yang agak pedas tapi ... ah pokoknya enak!

Oiyaa, ada satu lagi makanan yang berkesan selama perjalanan. Rasanya nggak adil kalau tidak diceritakan. (Ini terakhir, janji)




Adalah sebungkus Nasi Lemak yang dibelikan Bapak dan keluarga Ami di Malaysia. Keluarga yang sama sekali tidak Saya kenal tapi baik hati sekali mau "menampung" saat transit selama 24 jam setelah kembali dari Nepal. Makanan yang bukan cuma rasa masakannya saja yang enak, tapi juga mampu membuat Saya merasakan kebaikan dan ketulusan orang lain :)

PS :

Terima kasih sudah membaca!


Share
Tweet
Pin
Share
11 comments

Nggak pernah terpikir untuk pergi ke luar negeri secepat ini, apalagi luar negeri itu adalah Nepal, negara yang kurang umum juga dikunjungi wisatawan newbie seperti Saya. Yaps, ini adalah perjalanan pertama kali Saya ke luar negeri. Ini juga adalah perjalanan dengan preparation paling heboh yang pernah Saya alami. Huh.

Trip ini Saya lakukan dari tanggal 12 - 23 Desember 2017 lalu, totally 12 hari termasuk transit di Kuala Lumpur selama hampir 24 jam. Well, karena ini perjalanan yang too sweet to forget, jadi Saya pikir nggak ada salahnya ditulis di blog. Sekalian berbagi, who knows ada yang membutuhkan informasi. So, this is it ....
 

Alasan Memilih Nepal?

Jujur nih, pengetahuan Saya tentang tempat bagus di luar Indonesia itu minim banget. My biggest trip-obsession adalah ke Papua, belum ada keinginan ke luar negeri apalagi yang jauh. Tapi berhubung punya paspor yang nganggur dan akan expired di 2018,  Saya jadi punya ide coba pergi ke Gunung Kinabalu (Malaysia) yang akhirnya gagal juga karena regulasi dan cost yang lumayan mahal. Yaudahlaah~

One day, sampailah pada obrolan dengan teman kuliah soal Nepal yang akhirnya membuat Saya penasaran dan kemudian browsing. Beberapa pertimbangan Saya memilih negara ini adalah :


  • Visa-nya gampang (Visa on Arrival)
  • Tiket pesawat masih bisa dijangkau (jauh lebih murah dari tiket ke Papua, hiks)
  • Cost selama disana nggak mahal (compare to Kinabalu nih ya)
  • Ada pegunungan Himalaya yang pasti jadi impian pendaki sejagad raya, dan ternyata banyak pilihan trekking yang sangat possible dilakukan orang awam macam Saya gini.
  • Selain pegunungan, Nepal juga punya banyak tempat keren penuh story yang seru ... satu lagi, yang pasti disana Saya bisa lihat salju (ini alay sih) hehe.


View Machapurche dari Annapurna Base Camp (ABC)


Alasan Solo Travelling?

When I said "spontaneity is my middle name", I mean it. Ini literally jalan dua minggu sebelum berangkat, tanpa persiapan apapun. Waktu itu nekat beli tiket promo final call Air Asia dan langsung gercep ambil cuti yang luckly di approve. Agak ragu karena belum pernah ke luar negeri, tapi kesempatan belum tentu datang dua kali, jadi ya harusnya sikat aja. 

Terus kepikiran ajak teman, tapi ..
Liburan ke Nepal (trekking) itu kan butuh waktu yang cukup panjang, sedangkan teman-teman Saya rata-rata adalah karyawan yang susaaaaaaah cuti lebih dari 3 hari. Siapa dong karyawan yang bisa diprovokasi cuti panjang dalam waktu yang sudah mepet? Mungkin malah disuruh resign aja sekalian. Makanya jangan jadi karyawan :p

Asiknya pergi ke Nepal, negara ini sangat aman untuk solo travelling bahkan bagi perempuan. Asli, sesuai pengalaman pribadi. Mayoritas orang Nepal cukup helping dan ramah. Mungkin yang perlu diwaspadai adalah calo bus, supir taksi, hotel budget, tapi itupun paling cuma soal ongkos. Selama kita punya cukup informasi dan bisa berkomunikasi Saya rasa nggak akan ada kendala yang berarti.

Kalau ditanya apa nggak enaknya pergi sendiri, maka jawaban pertama adalah cost akan lebih mahal (sebagai gantinya pengalaman yang didapatkan jauh lebih kaya). Selain itu, kalau pergi sendirian, dokumentasimu pasti lebih banyak isinya landscape. Kenapa? karena kesempatan untuk foto diri sendiri itu ribet harus minta tolong orang atau setting timer terus lari. Tapi jaman sekarang kamera sudah ada remote-nya yang sangat membantu.

Terakhir, kamu pasti ngerasa creepy dan agak sepi kalau nggak ada teman bicara sementara sekitarmu lagi asik ngobrol sama grup atau pasangannya masing-masing. Apalagi pas diatas gunung yang suhunya minus itu mereka pada peluk-pelukan, sementara kamu menggigil sampai ingus beku jadi es - sendirian, kezel! 


Thamel Situation

Persiapan yang dilakukan? 


Dalam dua minggu yang begitu cepat, cukup ribet mempersiapkan ini itu. Apalagi ini pertama kali ke luar negeri, nervous sekali. Khawatir dokumen ada yang tertinggal, takut tas over bagasi, takut nggak lolos imigrasi, bla bla bla ... yang alay-alay itu kepikiran semua.

Beberapa hal yang umum, tapi perlu dicatat :

  • Olahraga. Buat Saya yang hobi mendadak travelling, ini penting banget. Biasanya cuma lari pagi atau sore aja, minimal semingu 3 kali. Setelah jalan ke ABC, Saya makin yakin kalau rajin olahraga itu sangat membantu.
  • Punya paspor adalah keniscayaan. Walaupun perjalanan ini cukup spontan, tapi soal paspor sebenarnya sudah ready dari tahun 2013 tanpa pernah sekalipun dipakai. Kasihan dia. Btw, kalau ada paspor, kita bisa beli tiket yang tiba-tiba promo, tiba-tiba final call. Paspor ini diperlukan tidak hanya untuk urusan imigrasi, tapi juga diperlukan untuk membeli SIM Card lokal dan pengurusan ijin mendaki di Nepal.
  • Menentukan tujuan. Kira-kira mau ngapain sih di Nepal? Trekking, belanja, wisata budaya, atau apa? Saya ke Nepal karena ingin trekking ke Annapurna Base Camp (ABC). Setelah itu, Saya baru bisa menentukan berapa lama disana, transport, dan akomodasi seperti apa yang Saya butuhkan, dll.
  • As a first-timer, Saya perlu banyak membaca dan bertanya untuk mencukupi semua kebutuhan informasi. Beberapa blog yang sangat membantu dan informatif antara lain :  Kapankemana, Gardjoew, Herwian Pilgrim, dan Trip Raiyani (Thanks anyway). Agar lebih mantap, nggak ada salahnya cari informasi di web internasional seperti Lonely Planet dan untuk update informasi trekking/cuaca, bisa cek di website : Indiahikes dan Mountain Weather Forcast (Silahkan diklik).


Deretan Pegunungan Himalaya (Sagarmatha) terlihat dari Pesawat

  • Pesan tiket pesawat dan hotel. Kebetulan beli tiket pas ada promo final call Air Asia (harga tiket SUB - KL (Transit) - KTM PP Rp 3.200.0000,-) Saya beli melalui Asiatrip. Untuk hotel, tinggal cari di Agoda, rata-rata harganya backpacker-friendly lah.
  • Siapkan perlengkapan travelling. Mulai dari uang, pakaian, jaket tebal, tas, sepatu, obat, dan segala perintilan yang kecil-kecil. Terutama kalau musim dingin, kita perlu menyesuaikan lagi perlengkapan yang dibawa. Tapi kita nggak perlu lebay kok. Tenang aja, di Nepal banyak toko.

Apa saja yang perlu dibawa?

Tergantung pas kesana lagi musim apa. Nepal mengalami 6 pergantian musim, Januari - Februari (Winter), Maret - Mei (Spring), Juni - Juli (Summer), Juli - September (Rainy), Oktober - November (Autumn), Desember (pre-winter). Desember kemarin di Nepal mulai masuk musim dingin, suhu paling dingin saat itu bisa sampai minus 18 derajat, jadi perlengkapan yang  Saya bawa adalah :



Itinerary & Budget 

Saya cukup beruntung menemukan banyak referensi yang saling melengkapi dan up to date dari blog-blog yang tadi disebutkan. Dari situ Saya bisa menyusun itinerary dan budget sendiri tanpa perlu menggunakan jasa travel agent. Klasik tapi nyata, kelebihan arrange perjalanan sendiri itu, kita bisa bebas menentukan tujuan tanpa dibatasi otoritas si travel agent. Seruuuu!

Sebagai gambaran, berikut list aktivitas dan budget yang Saya keluarkan selama di Nepal, tidak termasuk oleh-oleh. Mostly Saya adaptasi dari panduan yang ditulis Mbak Ajeng (kapankemana.com) disesuaikan dengan sikon disana :


Honestly, kurs per NPR saat itu sekitar 120 rupiah .. dibuat seperti diatas biar lebih mudah saja :)

Kurang lebih seperti itu informasi umum yang paling sering ditanyakan teman-teman. Maafkan kalau nulisnya kurang oke dan barangkali ada yang kurang lengkap, silahkan dikomen. Biar nggak terlalu panjang, cerita yang lengkap perjalanan akan lanjut di chapter berikutnya.


Update :

Sendirian di Nepal (Part 2) : Annapurna Base Camp - No Porter, No Guide
Sendirian di Nepal (Part 3) : City Tour ala Doctor Strange
Sendirian di Nepal (Part 4) : Teman Perjalanan
Sendirian di Nepal (Part 5) : Makanan Bergizi, Sehat, Berenergi!

Anyway, terima kasih sudah membaca :)
Share
Tweet
Pin
Share
16 comments
Dear teman-teman pembaca,

Setelah menulis 2 artikel mengenai Overland Flores dan Waerebo, banyak sekali pertanyaan tentang budget perjalanan Flores Saya yang lalu (meskipun sebenarnya sudah lewat hampir 2 tahun).

Mohon maaf, Saya tidak setiap hari buka blog sehingga belum bisa balas satu-satu komen maupun email-nya. Semoga tulisan ini dapat sedikit membantu teman-teman semua yaa.. 

Oiyaa, banyak juga yang tanya contact person boat, penginapan, dll ... mohon maaf, semua ada di HP Saya yang rusak. Sayapun kehilangan.

Saya detailkan semua estimasi pengeluaran dan estimasi waktu perjalanan selama di FLores. Sebenarnya uang yang saya keluarkan tidak sebanyak itu (beberapa karena sharing dengan traveller lain dan beruntung dibayarin orang, hehehe). Harga-harga dibawah ini siapa tahu bisa jadi patokan, tapi kembali lagi, saat disana, teman-teman mungkin  bisa mendapatkan yang berbeda (lebih mahal atau lebih murah).


Semoga perjalanan kalian menyenangkan ya!

Thanks & regards,
Gemilang Andriyanti Roberto
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Older Posts

About me

About Me

Free Individual Traveller. Not a good writer, yet a story teller.

Sketching @_proyeksampingan |a Part of @Tukar_Cerita (Podcast)

Follow Me

  • Podcast
  • Instagram
  • Facebook
  • Soundcloud
  • Google +

recent posts

Blog Archive

Facebook Twitter Instagram Soundcloud


FOLLOW ME @INSTAGRAM



Created with by ThemeXpose | Distributed By Gooyaabi Templates