• Home
  • About
  • Contact
    • Email
Instagram Facebook Google +
 #SoloTrip



Food becomes a part of travel, even when you least expect it ~
katanya sih gitu. Bagi sebagian orang memang belum lengkap rasanya travelling tanpa mencoba kuliner baru. Bahkan banyak juga yang tujuan perjalanannya justru culinary tourism.


Saya (belum) termasuk aliran itu. Meskipun bantet begini, sebenarnya dari kecil Saya nggak terlalu hobi makan. Tapi lain cerita kalau lagi travelling atau diajakin teman, mau makan apapun - dimanapun - kapanpun jadi lebih easy-going.


Ngomong-omong soal makan, mayoritas masyarakat Nepal beragama hindu, sama seperti di Bali. Mengonsumsi daging Sapi merupakan hal terlarang, sebagai pengganti, mereka makan daging kerbau (buff), ayam, pork, atau kadang ikan. Bagi teman-teman yang tidak makan pork, perlu lebih aware karena tidak ada keterangan kecuali kita bertanya. Opsi paling aman, dihampir seluruh tempat makan selalu menyediakan berbagai olahan sayur dengan bumbu kari.


Nah, selama perjalanan di Nepal ada banyak makanan yang Saya coba. Beberapa makanan khas, yang lainnya mungkin biasa ditemukan dimana saja. Sebagian enak, tapi ada juga yang sekedar nice-to-have. Inilah daftarnya :


Momo

Ini adalah makanan pembuka yang pertama kali Saya coba setelah tiba di Nepal. Referensi blog dan artikel manapun hampir tidak pernah absen mention makanan tradisional yang mirip Dimsum atau Siomay versi Nepal. Tampilannya sangat menarik. Kita bisa memilih Momo dengan isian daging buff, ayam, atau vegetarian lengkap disiram bumbu kari sebagai saus pendamping. Porsinya terlihat tidak begitu besar, tapi ternyata sangat kenyang. Perpaduan rasa kari dan rempah pada bagian dagingnya sangat kuat. Rempah juga menimbulkan rasa hangat yang pas untuk menghadapi suhu 5 derajat sore itu.

Proses pembuatan Momo


Menurut Ram Chandra, kedai yang menyediakan Momo paling juara ada di kawasan Dharahara, sekitar 15 menit dari Thamel dengan menggunakan taksi. Harganya NPR 90 - 150 per porsi. Untuk mencicipi Momo di kedai tersebut, kita perlu bersabar karena antriannya cukup panjang.


Dal Bhat

Suapan pertama saat mencicipi Dal Bhat, seketika mengingatkan Saya pada Nasi Padang. Namun bedanya bumbu rempah dan kari yang digunakan sangat kuat, khas masakan Nepal. Makanan ini sangat mudah ditemukan diberbagai tempat di Nepal, termasuk saat pendakian ke ABC.

Dal Bhat biasanya disajikan pada loyang besi yang diatasnya tertata rapi nasi, beberapa jenis sayur bumbu kari, sambal (Saya lupa sebutannya), dilengkapi lauk berupa ikan atau udang. Satu porsi Dal Bhat dapat dimakan untuk tiga orang seukuran Saya. Overall, rasanya bisa diterima. Satu-satunya masalah adalah Saya tidak suka nasi.




Dal Bhat Power!
Salah satu kedai Dal Bhat paling ramai di Thamel

Kathmandu Burger

Selama 10 hari di Nepal, ini adalah makanan yang paling sering Saya beli karena suka bangeeeeeet. Tastiest burger I've ever eaten. Sayang penampakan burgernya lupa difoto. Menu yang selalu Saya beli adalah Kathmandu Special Burger harganya NPR 280, atau sekitar 35 ribu rupiah. Lebih mahal memang dari harga seporsi Dal Bat, tapi worth it dengan tumpukan roti, buff ham, chicken, double chesee, sayur, dan bumbu yang supeeeer enak dan tebal!

Kedai kecil ini bisa ditemukan di kawasan Thamel, tidak terlalu jauh dari jalan besar sejajar dengan store The North Face. Selain rasa, pelayanan kedai ini juga sangat menyenangkan. Ah, jadi pengen ke Nepal lagi untuk sekedar beli burger.


Makanan favorit selama di Nepal

Susu Kerbau (Buff) & Chura

Dalam perjalanan dari Pokkhara menuju Kimche, Saya kelaparan karena belum sempat sarapan. Saat itu Saya minta pada driver taksi untuk mencari tempat makan apapun yang bisa kami temukan. Tidak mudah menemukan tempat makan saat menyusuri kaki gunung yang berkelok tersebut sampai akhirnya kami berhenti di sebuah rumah kecil. Kata driver taksi, rumah tersebut menjual Susu Kerbau murni yang enak sekali rasanya. Namun sepertinya Saya tidak akan menemukan banyak pilihan makanan.

 

So, Saya membeli segelas susu. Mencoba merasakan susu kerbau pertama kalinya dan ternyata rasanya enak meski tanpa gula sekalipun. Karena masih lapar, Saya minta pada penjualnya menyediakan makanan untuk breakfast. Penjual itu memberikan sepiring sayur dan semacam oatmeal yang ternyata flattened rice. Belakangan Saya tahu, nama makanan itu adalah Chura. Kombinasi makanan yang agak aneh rasanya, tapi tetap Saya habiskan demi pendakian. Untuk segelas susu dan Chura harganya NPR 150.

Chura - Vegetable
Susu Kerbau Murni

Buff Sekuwa

Bentuknya seperti sate tanpa bumbu kacang. Menggunakan daging kerbau membuat teksurnya lebih keras. Tapi bumbu sederhana yang meresap rata sampai kedalam membuat rasa Sekuwa ini lezat. Saya membelinya disekitar Phewa Lake, Phokkara pada malam hari yang dingin. Hanya semacam PKL tanpa kedai dipinggir jalan namun suasananya cukup nyaman. Harga 1 tusuk Sekuwa sekitar NPR 40.



Gurung Bread & Masala Tea

Penyuka Roti Maryam atau Roti Canai mungkin akan terkarik untuk mencoba makanan yang satu ini. Menurut Saya, ini lebih seperti pancake dengan adonan mirip kulit pisang goreng. Di ABC, Roti Gurung biasanya disajikan dengan topping madu atau omellete. Tapi karena adonan roti yang agak manis, partner terbaiknya adalah madu dan secangkir teh herbal ala Nepal, Masala Tea. Sejauh perjalanan, Gurung Bread adalah menu yang posrinya paling pas dengan ukuran perut Saya. Tidak terlalu sedikit dan tidak over seperti porsi makanan lainnya.

Foto ini diambil dari inotherpartsoftheworld.com

Sugar Mama Chhomrong - Best Chocolate Cake

Dari keseluruhan rute pendakian ABC, melewati Chhomrong adalah salah satu ujian terberat. Tapi dibalik ribuan tangga yang melelahkan, ada satu harta karun manis yang tersimpan. Herwian, salah satu teman blogger merekomendasikan kue ini untuk dicoba saat pendakian menuju ABC. Menurutnya, ini adalah sweetest temptation selama pendakian.

Bahkan salah satu artikel dalam majalah Times pernah menuliskan : " .. has become a legend for the magnanimous slices of warm, brownie-like chocolate cake she serves weary hikers going up to or coming down from base camp". Harga satu slice cake chocolate sekitar NPR 200. Mahal tapi worth it kok. Ada beberapa toko kue di Chhomrong, namun yang paling enak adalah Sugar Mama di Chhomrong Cottage. Kalian harus coba!


Sugar Mama ada di Cottage ini. Gambar ini diambil dari tripadvisor.

Menu Mevvah selama di Gunung

Berbeda dengan pendakian yang pernah Saya lakukan di Indonesia, selama pendakian di ABC makanan lebih terasa seperti di cafe daripada di gunung. FYI, semakin tinggi, harga makanan semakin mahal. Tapi tenang, porsi makanan sebenarnya sangat besar dan cukup untuk 2 kali makan. Kadang untuk mengakali, Saya membeli makanan yang bisa dibungkus untuk dimakan pada pemberhentian berikutnya.

Diantara semua makanan, yang paling bermanfaat membantu daya tahan adalah Garlic Soup (murah lagi :p). Sedangkan yang paling enaaaak adalah Tuna Pizza yang ditraktir sama Dave (mungkin karena gratis ya). Range harga makanan sekitar NPR 250 - 500 tergantung menunya.







Sebagai penutup, Saya ingin merekomendasikan makanan ringan murahan tapi Saya jamin kalian pasti ketagihan. Dan makanan itu adalaaaah ..... PRAW!




Saya agak menyesal kenapa nggak bawa pulang ke Indonesia. Harganya cuma NPR 20 per bungkus. Keripik kentang renyah dengan bumbu khas kari Nepal yang agak pedas tapi ... ah pokoknya enak!

Oiyaa, ada satu lagi makanan yang berkesan selama perjalanan. Rasanya nggak adil kalau tidak diceritakan. (Ini terakhir, janji)




Adalah sebungkus Nasi Lemak yang dibelikan Bapak dan keluarga Ami di Malaysia. Keluarga yang sama sekali tidak Saya kenal tapi baik hati sekali mau "menampung" saat transit selama 24 jam setelah kembali dari Nepal. Makanan yang bukan cuma rasa masakannya saja yang enak, tapi juga mampu membuat Saya merasakan kebaikan dan ketulusan orang lain :)

PS :

Terima kasih sudah membaca!


Share
Tweet
Pin
Share
11 comments

Salah satu hal yang membuat Saya begitu menikmati Solo Trip adalah adanya kesempatan untuk bertemu dan mengenal banyak orang baru dari segala penjuru dunia. Itu membuat Saya merasa hidup.

Memang, belum tentu semua orang yang Saya jumpai itu baik. Tapi kalau punya kesempatan bertemu dengan orang-orang yang baik, itu lebih dari sekedar beruntung, it means I'm blessed ❤

Seperti yang pernah Saya ceritakan pada part sebelumnya, kebanyakan orang yang Saya jumpai di Nepal sangat friendly dan helping. Tidak heran, ini kan negara wisata. Selain ramah, mereka rata-rata bisa berbahasa inggris meski tidak lancar. Saya ingin sedikit sharing pengalaman Saya berjumpa dengan orang-orang baru selama perjalanan di Nepal.

Ram Chandra

Couchsurfing mempertemukan Saya dengan Ram Chandra. Beberapa hari sebelum berangkat, Saya iseng membuat upcoming trip di website Couchsurfing. Niatnya cuma cari solo traveller lain yang bisa diajak share cost, tidak menyangka ada lebih dari 100 tawaran host lokal, atau sekedar meet up. Was-was juga nih sebenarnya.

Setelah stalking ini itu, Saya menemukan beberapa teman yang terpercaya, Ram salah satunya. Sejak masih di Surabaya, Saya sering tanya informasi tentang Nepal kepada Ram. Latar belakangnya sebagai karyawan disalah satu hotel di Nepal membuat pengetahuannya mengenai pariwisata cukup lengkap. Dia juga sangat baik, pintar, dan juga penganut Hindu yang taat. Bahkan saat di Nepal, dia banyak membantu Saya. Mencicipi Momo terlaris di kota adalah idenya, termasuk mengajak Saya ke Pasupatinath, tempatnya beribadah. Sayang sekali Saya tidak sempat menunjungi kampung halaman Ram yang dengan bangga selalu diceritakan : Nagarkot. 

It was a great pleasure that I met Ram. He threat me like family, truly represents an essence of Nepalese hospitality!


 

Vietnam Girls

Ingatan Saya memang seperti ikan Dory, gampang sekali lupa. Dan jujur, Saya lupa nama dua gadis Vietnam ini (karena terlalu sulit spelling-nya). Tapi Saya tidak mungkin lupa bagaimana kami bertemu saat di ruang tunggu KLIA. Hampir seluruh ruangan dipenuhi laki-laki berwajah India. Sepertinya cuma Saya satu-satunya peremuan yang duduk diantara mereka sampai beberapa waktu kemudian datang dua gadis itu dan duduk disebelah Saya. Lega rasanya ... Dari situ kami janjian untuk sharing perjalanan di Nepal meski ternyata cuma bersama dari bandara sampai ke Thamel saja :p


Driver taksinya mirip orang Indonesia ya, guys :)

Keluarga Rhomme

Perbaikan jalan dan kemacetan menuju Nayapool membuat schedule pendakian Saya menjadi terlambat. Keterlambatan itu mengakibatkan Saya masih berjalan saat hari sudah gelap. Tidak ada satupun orang yang lewat sejak matahari tenggelam. Saya berjalan tanpa sama sekali berpapasan dengan orang lain, ataupun melihat cahaya lampu dari kejauhan. Sangat sunyi. Saya bahkan hampir saja tersesat saat melewati jalan percabangan. Syukurlah saat itu Saya melihat cahaya lampu rumah yang sepertinya semakin lama semakin dekat dari tempat Saya berjalan.

Saya mengikuti cahaya itu hingga sampai ke sebuah desa  bernama Rhomme. Tidak banyak rumah disana, dan hanya ada 2 rumah yang diterangi cahaya lampu. Chhomrong, desa tujuan Saya masih sekitar 1 jam perjalanan lagi dan saat itu waktu sudah lewat jam 7 malam. Udara malam sangat dingin, Saya tidak ingin berjalan lagi. 

Rumah terang itu milik sebuah keluarga. Tidak satupun diantara mereka yang lancar berbahasa inggris. Namun, melihat muka Saya lelah, mereka berusaha menawarkan tumpangan untuk istirahat. Semangkuk garlic soup, dua butir telur rebus, dan segelas susu dibuatkan untuk Saya oleh sang mama. Mereka sederhana namun sangat hangat, it was my lucky day.

 

 

Bernard, Adrian Liew, Kaylee, and their Guide (also Saori)

Ribuan tangga Chhomrong menuju Dovan membuat pendaki berjalan lebih lambat apalagi dengan carrier besar dipunggung. Saat menemukan tempat teduh, biasanya Saya berhenti untuk istirahat. Disanalah Saya bertemu dengan Bernard, Adrian, dan Kaylee (dua rombongan berbeda) beserta para guide dan porter mereka. 

Selama dua hari kami berjalan hampir selalu beriringan, kami terlihat seperti rombongan. Kebetulan kami berhenti dan beristirahat di penginapan yang sama baik di Dovan maupun Machapurche. Bersama mereka, Saya jadi punya teman ngobrol  yang menyenangkan. Mengikuti guide mereka yang sudah profesional, setidaknya Saya dijamin tidak akan tersesat lagi. Sayang sekali, kami terpisah saat perjalanan turun setelah berhasil sampai di puncak ABC.


Tidak sedikit pendaki yang memandang Saya aneh karena sendirian berjalan menuju Annapurna Base Camp. Kadang sampai minta foto bareng -_- Mungkin karena postur Saya nggak terlalu meyakinkan jadi mereka heran. Saat diperjalanan menuju Kimche, Saya melewati seorang perempuan yang dari wajahnya sudah pasti orang Asia. Karena merasa senasib, Saya ajak dia bareng tapi dia menolak. Belakangan Saya tahu, dia menolak karena tidak bisa berbahasa inggris.

Kami bertemu lagi di Machapurche Base Camp (MBC). Saat itu Saya tidak kebagian kamar dipenginapan sehinggga harus sharing dengan orang lain. Wanita asal Jepang itu bernama Saori, kami menjadi teman sekamar di MBC. Meski lebih tua, Saori terlihat masih kuat sekali berjalan. Saori sangat pendiam, mungkin karena keterbatasan bahasa. Yang paling berkesan dari Saori, dia rajin mencatat segala hal yang ditemui dalam perjalanan dengan huruf kanji yang sangat rapi. Bahkan Saori mengambar apa yang dilihat pada catatannya karena tidak membawa kamera. Selain catatan, semalaman dia begadang menuliskan pesan diatas kartu pos bergambar view ABC untuk oleh-oleh. Unik.




David Finn

Hanya ada satu orang yang masih asik bekerja dengan laptopnya saat yang lain menikmati suasana atau makanan di MBC. David Finn, geologist asal Amerika yang dari Saya tiba sudah duduk sendirian di pojok ruangan serius mengerjakan sesuatu, mengingatkan Saya pada kerjaan kantor yang ditinggal sementara :"

Ketika ruangan semakin sepi, kami yang tersisa di ruang makan ngobrol-ngobrol menghabiskan waktu. Dave, kemudian bergabung saat kami membicarakan Indonesia. Menarik, ternyata Dave sering sekali datang ke Indonesia untuk penelitian tesisnya. Sejak bergabung, dia tidak pernah berhenti bercerita.

Ini bukan pertama kalinnya Dave mengunjungi ABC. Dia sudah beberapa kali ke Nepal dan kali ini dia akan stay selama satu bulan. Atas pengalaman dan sikapnya yang sangat menyenangkan, Saya mengajak Dave berjalan bersama untuk mengejar sunrise di ABC.

Jarak MBC ke ABC tidak terlalu jauh, medannya sedikit hilly tapi relatif landai. Udara pagi yang sangat dingin membuat jarak itu terasa jauuuuuh sekali. Beberapa kali Saya ingin sekali berhenti atau kembali lagi ke MBC. Luar biasa hampir beku meskipun baju sudah lapis enam. Sementara itu, Dave tetap tidak berhenti bicara, menceritakan bagusnya view di atas ABC, termasuk menyemangati Saya yang semakin sulit berjalan.

Sampai di ABC, Dave memberi Saya hadiah karena tidak menyerah. Secangkir Hot Chocolate, reward terbaik untuk menghangatkan badan yang rasanya sudah seperti es batu. Lagi-lagi merasa beruntung.

Setelah turun dari ABC, kami langsung turun menuju desa Bamboo dan bermalam disalah satu penginapan disana.  Hari berikutnya, kami melanjutkan perjalanan hingga ke Chhomrong. Selama perjalanan, Dave seperti radio yang terus bicara menceritakan banyak sekali hal-hal menarik dan seru. He has a good sense of humor as well. Perjalanan panjang jadi terasa sangat singkat. Kami berpisah di Chhomrong setelah farewell makan Tuna Pizza terenak di ABC.




Sebenarnya banyak sekali perjumpaan dengan orang-orang yang berkesan. Seperti saat bertemu dengan sepasang Kakek Nenek berusia lebih dari 80 tahun tapi jalannya lebih kuat dari Saya. Iya, 80 tahun tapi naik tangga kaya mau lari aja.

Saya juga senang sekali bertemu dengan anak-anak kecil. Untuk pergi ke Sekolah, setiap hari mereka melewati ribuan tangga Chhomrong yang seketika bikin kurus tanpa perlu diet. Anak-anak yang belum sekolah biasanya main masak-masakan, petakumpet, atau apalah.. sebenarnya sama dengan di Indonesia.


Si Kakek nggak mau difoto, Nenek aja yang mau :p
 




Ami dan teman-teman dari Malaysia

Sepuluh hari di Nepal, Saya jarang ketemu orang Indonesia (selain dua orang fotografer Jogja). Saya selalu excited setiap melihat wajah yang sepertinya sebangsa, selalu Saya sapa.Beberapa kali menyapa, Saya salah. Rombongan yang disapa ternyata berasal dari Malaysia. Kami sering sekali tidak sengaja bertemu. Saat pendakian, saat belanja di Thamel, dan saat di Bandara. Akhirnya kami pulang juga dengan pesawat yang sama.

Meski baru kenal, kami langsung akrab karena seumuran. Empat jam di pesawat, kami ngobrol, berbagi makanan, hingga akhirnya mereka mengajak Saya menginap dirumah mereka. Memang, waktu transit Saya cukup lama, 24 jam. Menunggu di airport  akan sangat membosankan. Saya setuju, toh belum pernah ke Malaysia juga.

Sampai di rumah Ami, Saya dikenalkan dengan keluarga besarnya. Sedang ada acara keluarga di rumahnya, jadi semua saudara berkumpul. Saya pikir akan awkward, diluar dugaan mereka menyambut dengan sangat hangat, padahal Saya datang dengan penampilan anak gunung yang korep abis.

Keluarga Ami baik sekali. Ibunya masih ada keturunan Jawa, jadi bisa sedikit berbahasa Jawa. Adik,kakak, dan Ayah Ami juga sangat menyenangkan. Saya sama sekali tidak merasa diperlakukan sebagai tamu, melainkan sebagai keluarga. Sebelum pulang, mereka membelikan Nasi Lemak yang enak sekaliiiiiiiiiii. Meskipun tidak suka nasi, Saya makan semua sampai habis sebagai tanda terima kasih atas ketulusan mereka.
 

Bertemu dengan mereka tidak hanya membuat saya merasa percaya, Saya akan terus dihubungkan dengan orang-orang baik selama Saya pergi dengan niat yang baik. Bertemu mereka sedikit banyak juga telah mengubah hidup dan cara Saya berpikir. Kita bisa belajar dari siapapun kan?

Yang pasti, Saya nggak pernah merasa sendirian meskipun pergi sendiri. So, don't worry ..


Terima kasih sudah membaca :) 

Share
Tweet
Pin
Share
7 comments

Bercerita tentang Nepal, tidak akan berhenti pada Himalaya dan alamnya yang super impressive saja, namun juga budaya yang epic. Tidak banyak tempat yang bisa Saya kunjungi. Ini hanyalah bonus yang bisa Saya sempat-sempatkan dari serangkaian jadwal super padat (juga anggaran yang ketat).

Bagi pecinta Marvel, cerita Saya ini akan mengingatkan kalian dengan latar film Doctor Strange yang dimainkan idola Saya, Benedict Cumberbatch (tapi baru nonton filmnya justru setelah pulang dari Nepal :p).


Pashupatinath


Ditepi sungai Bagmati, kematian dihantarkan dengan doa dan puji-pujian bagi para Dewa. Saya masih ingat sepenggal liriknya. "Om Nahma Shivaya" ... lalu bernyanyi lagi "Om jai jaadish hare". Lantunan nyanyian merdu itu menyatakan pujaan, segala keagungan bagi Sang Pencipta jagad raya.
 
Adalah sebuah cara pemujaan yang indah. Tarian, nyanyian, dan musik mengalun mendayu-dayu berpadu dengan api serta dupa menyala. Saya terpana. Saya hampir lupa, tepat diseberang tempat Saya berdiri, ada puluhan jenazah yang sedang dalam proses kremasi. Dalam panasnya api, tubuh luruh menjadi abu, dan jiwa kembali ke Nirwana.








Datang kemari dimalam hari adalah ide teman Saya, Ram Chandra, seorang penduduk lokal. Pemuda yang sangat taat sembahyang ini mengajak Saya menyaksikan proses ibadahnya. Saya sangat tertarik. Berkendara dengan motor bersama Ram, kami pergi ke Pashupatinath, kurang lebih 30 menit jauhnya dari Thammel. We'll see the life, beside the death. Saya masih ingat kalimat Ram yang membuat Saya sangat penasaran menerka-nerka hal yang akan Saya saksikan.

Kami tiba ditepi sungai Bagmati. Dari tempat berhenti, terlihat kepulan asap membumbung ke langit, aroma pembakaran tercium sangat jelas. Meski memasuki tempat yang erat kaitannya dengan kematian, namun segala ketakutan akan sirna dengan bangunan megah yang sangat gagah. Pashupatinath dikenal sebagai salah satu situs Hindu terbesr di dunia. Sebagian dari bangunan megah itu merupakan area yang sakral, tidak semua orang diperbolehkan memasukinya. Area sakral itu adalah tempat suci dimana umat Hindu khusuk bercengkerama dengan Penciptanya.









Sesekali Saya mengarahkan pandangan ke seberang. Pernah Saya membaca cerita mengenai tempat ini saat terjadi gempa bumi yang dahsyat beberapa tahun lalu. Pashupatinath adalah tempat seluruh jenazah korban gempa dikumpulkan. Saya tidak bisa membayangkan seperti apa situasinya saat ribuan manusia tak bernyawa memenuhi tempat ini untuk upacara pembakaran jenazah. Duka cita yang dalam dan airmata tumpah diseluruh penjuru negeri ini. Saat ini, mereka terus berusaha bangkit dari keterpurukan itu.

Saya menikmati setiap jengkal peristiwa yang Saya saksikan. Menikmati berdiri diantara umat Hindu yang bersembahyang dengan cara yang indah. Setiap manusia punya cara yang berbeda untuk berkomunikasi dengan Tuhan sesuai kepercayaan. Saya menghormati cara mereka.










Jika pergi kesini sebelum petang, kalian akan sangat senang karena bisa bertemu dengan para Baba (seperti foto yang tersedia di Google). Saya tidak menjumpainya dimalam hari. Sebagai gantinya, Saya bisa menyaksikan bagaimana umat Hindu di Nepal beribadah, bagaimana upacara kematian mengantarkan jiwa ke Nirwana, bermain dengan anjing, serta menikmati suasana tempat ini tanpa keramaian turis tentunya. Harga tiket masuk untuk turis sekitar 1.000 NPR tapi karena datang bersama Ram, Saya tidak membayar apa-apa.


 
Bangunan ini merupakan tempat suci bagi umat Hindu, tidak semua orang boleh masuk kedalamnya.

 Bhaktapur Durbar Square

Seusai pendakian, Saya masih memiliki satu hari tersisa untuk menikmati me time di Nepal. Saya memilih pergi ke Bhaktapur, sebuah kota kerajaan yang terletak di kawasan lembah Kathmandu. Dari penginapan di Thammel, Saya jalan kaki menuju Ratna Park Bus Station dan menumpang bus lokal seharga NPR 25 menuju ke Bhaktapur. Dalam bus yang penuh sesak macam metromini, Saya duduk bersama seorang gadis lokal yang memberi tahu dimana Saya harus turun. Well, gadis itu adalah keberuntungan Saya berikutnya.

Saya turun bersama gadis lokal tersebut. Setelah menunjuk arah masuk, dia pergi ke arah yang berbeda. Tidak tahu pasti dimana Saya berhenti saat itu, karena tidak ada gate atau petunjuk seperti di google. Agak ragu, tapi terus saja Saya berjalan dengan hanya mengandalkan informasi dari gadis tadi. Mengikuti arah yang ditunjukkannya sampai menemukan barisan pedagang souvenir dikanan kiri jalan, Saya merasa hampir sampai ketempat tujuan.

Lima menit berjalan, Saya kaget tiba-tiba sudah sampai dipusat Bhaktapur Durbar Square. Rupanya jalan yang ditunjukkan adalah jalanan perkampungan yang langsung menembus tanpa melewati entrance gate. Bahkan Saya baru menemukan pintu masuk saat pulang. Berkat petunjuk gadis itu Saya masuk tanpa harus membeli tiket turis segarga NPR 1.000. Lumayan yah!

My first impression to this place was .. I really like it.


Sebagai sebuah kota kerajaan, kawasan Bhaktapur ini cukup luas dikelilingi kuil, bangunan, dan tempat tinggal yang sangat artsy bernuansa merah bata. Beberapa bangunan tidak utuh, rusak akibat gempa. Dari bangunan yang rusak itu, kita bisa membayangkan betapa mengerikan kondisi yang dihadapi penduduk Nepal saat itu dan bagaimana mereka survive berjuang memperbaikinya sampai kini.

Jika kalian menyukai sejarah dan budaya, jangan pernah lewatkan tempat ini saat berkunjung ke Nepal. Bhaktapur pernah menjadi ibu kota Nepal pada abad 12 - 15. Kota kuno ini banyak diisi dengan monumen, candi, terra-cotta, tiang-tiang berukir, atap berlapis emas, serta halaman terbuka. Pada jaman dahulu, tempat ini adalah istana yang dipenuhi dengan pagoda dan kuil-kuil agama. Kekayaan unsur budaya di dalamnya telah diakui oleh UNESCO. Suasana iconic inilah yang mungkin membuat film Doctor Strange banyak mengambil latar ditempat ini. Btw, kalau teman-teman tertarik baca sejarahnya coba klik disini.





 




Berbeda dengan pusat kota Kathmandu dan Pokhara yang sangat sibuk, disini Saya bisa menikmati suasana yang lebih tenang. Atmosphere yang sangat menyenangkan. Saya betah disana. Ngobrol tentang sejarah Nepal dengan orang-orang lokal, duduk-duduk menikmati suasana kota sambil menyaksikan khusuknya umat beribadah. Selain culture, disana menurut Saya juga merupakan pusat artwork. Saya mampir ke setiap galeri seni juga handy craft sampai lupa waktu. Setiap sudut kawasan ini tidak pernah membosankan.









Swayambhunath

Kuil suci ini juga dikenal sebagai Monkey Temple. Lokasinya tidak jauh dari Thammel, sekitar 15 menit ditempuh dengan taksi. Meski dikatakan terletak di kawasan lembah Kathmandu, namun sebenarnya lokasi Swayambhunath ini cukup tinggi. Untuk mencapai stupa, kita harus melewati ratusam anak tangga yang cukup melelahkan. Kurang lebih setinggi tangga di kawah Bromo. Nggak masalah dong bagi kalian yang sudah teruji melewati tangga Chommrong. Harga tiket masuknya NPR 200.




Sesuai namannya, disini kita akan bertemu dengan banyak monyet. Hmm.. I don't like monkey actually. Untungnya mereka tidak seagresif monyet di Uluwatu atau di Baluran. Bagi masyarakat Nepal, monyet dianggap suci dan bebas menghuni setiap sudut kuil yang merupakan situs warisan dunia UNESCO itu.

Sekilas bentuk bangunan Swayambhunath terlihat mirip dengan Boudhanath dengan skala yang lebih kecil (yang ada di film Doctor Strange itu Boudhanath). Keduanya memiliki bentuk kubah yang besar dengan pagoda berlapis emas sebagai puncaknya. Pada setiap sisi pagoda terdapat ukiran mata dewa yang seakan-akan memperhatikan seluruh penjuru kota.



 

Menurut cerita, kemunculan kuil Swayambhunath pada sekitar abad kelima ini masih menjadi misteri. Sesuai namanya, Swayambhu yang dalam bahasa Nepal artinya muncul sendiri. Sampai sekarang, kuil ini terus digunakan untuk pemujaan. Setiap hari sejak matahari belum terbit hingga datangnya malam, umat datang dengan lilin dan dupa untuk memuja dewa.

Dari Swayambhunath Saya bisa menyaksikan pemandangan kota Kathmandu. Ditemani suasana senja, semilir udara yang sejuk, dan alunan lagu-lagu Nepal, menjadi farewell yang pas untuk menikmati Nepal sebelum kembali pulang.


Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Titik Nol (35): Mata Buddha", https://travel.kompas.com/read/2008/09/19/07440426/Titik.Nol.35.Mata.Buddha.


Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Titik Nol (35): Mata Buddha", https://travel.kompas.com/read/2008/09/19/07440426/Titik.Nol.35.Mata.Buddha.




Dhaniavaad, Nepal.

Itu bukan nama tempat, melainkan bahasa Nepal yang artinya terima kasih. Negara pertama yang Saya kunjungi ini begitu mesmerizing. Alamnya, budaya, masyarakat, makanan, semuanya membuat Saya jatuh hati. Sepakat dengan Bu Raiyani dalam blognya, mengunjungi Nepal sekali tak akan cukup.

Meski tidak ada negara yang sempurna, seorang teman pernah berpesan "Nepal akan memperlakukanmu seperti saudara jauh yang baru pulang kampung. Ia akan menjamu dengan segala yang dimilikinya dan memastikan kamu pulang dengan perasaan yang sangat senang karena telah diperlakukan dengan ramah dan pesona yang indah. Kamu pasti ingin datang lagi".

Once again, pergi ke Nepal adalah salah satu keputusan terbaik dalam hidup Saya. Bagi teman-teman yang ingin mencoba travelling  ke luar negeri untuk pertama kalinya, negara ini adalah pilihan yang tepat. Ini buktinya :




View kota Kathmandu pagi hari
  
Bendera warna-warni berisi doa-doa




Phokkara
Phewa Lake

See you when I see you, Nepal.
Share
Tweet
Pin
Share
1 comments
Older Posts

About me

About Me

Free Individual Traveller. Not a good writer, yet a story teller.

Sketching @_proyeksampingan |a Part of @Tukar_Cerita (Podcast)

Follow Me

  • Podcast
  • Instagram
  • Facebook
  • Soundcloud
  • Google +

recent posts

Blog Archive

Facebook Twitter Instagram Soundcloud


FOLLOW ME @INSTAGRAM



Created with by ThemeXpose | Distributed By Gooyaabi Templates