• Home
  • About
  • Contact
    • Email
Instagram Facebook Google +
 #SoloTrip
Dear teman-teman pembaca,

Setelah menulis 2 artikel mengenai Overland Flores dan Waerebo, banyak sekali pertanyaan tentang budget perjalanan Flores Saya yang lalu (meskipun sebenarnya sudah lewat hampir 2 tahun).

Mohon maaf, Saya tidak setiap hari buka blog sehingga belum bisa balas satu-satu komen maupun email-nya. Semoga tulisan ini dapat sedikit membantu teman-teman semua yaa.. 

Oiyaa, banyak juga yang tanya contact person boat, penginapan, dll ... mohon maaf, semua ada di HP Saya yang rusak. Sayapun kehilangan.

Saya detailkan semua estimasi pengeluaran dan estimasi waktu perjalanan selama di FLores. Sebenarnya uang yang saya keluarkan tidak sebanyak itu (beberapa karena sharing dengan traveller lain dan beruntung dibayarin orang, hehehe). Harga-harga dibawah ini siapa tahu bisa jadi patokan, tapi kembali lagi, saat disana, teman-teman mungkin  bisa mendapatkan yang berbeda (lebih mahal atau lebih murah).


Semoga perjalanan kalian menyenangkan ya!

Thanks & regards,
Gemilang Andriyanti Roberto
Share
Tweet
Pin
Share
No comments

#Terima kasih yang telah menggerakkan saya menulis. Semoga bermanfaat :)

Pulau Nusa Nipa atau lebih dikenal dengan sebutan Flores adalah bagian dari Provinsi Nusa Tenggara Timur yang sedang hits karena keindahannya. Sejak salah satu partner pergi berlibur setahun lalu dan pulang dengan membawa segudang cerita tentang keindahannya lengkap dengan foto + album Ivan Nestorman (musisi lagu-lagu Flores) saya janji sama diri saya sendiri, saya harus kesana. Saya tepati janji itu sekitar sebulan yang lalu.

Niatnya memang backpacker-an. Sebelum berangkat, beberapa rekomendasi dari teman dan google menyarankan untuk naik bus malam terusan Surabaya - Sumbawa biar nggak ribet. Tapi saya pikir, akan lebih seru dan tidak membosankan kalau bisa berhenti diberbagai tempat, jadi saya pilih estafet.

Surabaya - Labuan Bajo 

Minggu, tanggal 24 Agustus 2014 saya berangkat dari Surabaya dengan bus malam menuju Banyuwangi turun di Pelabuhan Ketapang (optional : bus malam jurusan Denpasar / Kereta Api jurusan Denpasar). Berangkat kira-kira jam 21.00 WIB, berhenti di daerah Situbondo untuk istirahat makan malam, dan sampai di Pelabuhan Ketapang dini hari sekitar jam 02.00 WIB. Kapal Ferry rute Ketapang - Gilimanuk tersedia hampir setiap jam. Kapal saya berangkat tepat pada jam 03.00 WIB dan sampai di Gilimanuk jam 05.00 WITA. Selamat datang di Bali. Siapkan KTP, karena keluar dari Pelabuhan Gilimanuk akan ada pemeriksaan identitas.

Dari Pelabuhan Gilimanuk, saya harus melanjutkan perjalanan menuju Pelabuhan Padang Bai (dari ujung barat ke ujung timur Pulau Bali). Cukup berjalan kaki sekitar 10 menit dari pelabuhan, saya tiba di Terminal Gilimanuk. Sayangnya, saya terlalu pagi untuk menemukan bus rute - Gilimanuk Padang Bai (langsung). Alternatifnya, saya harus ke Terminal Ubung Denpasar dengan bus mini (sekitar 5 jam perjalanan), lalu estafet dari Ubung ke Padang Bai (1,5-2jam). Lapaaaar saya, makan siang dulu di warung sekitar terminal sambil mengumpulkan informasi untuk perjalanan selanjutnya. Jam 11.55 WITA saya sudah siap menyeberang dari Pelabuhan Padang Bai (Bali) menuju ke Lembar (Lombok) dengan kapal Ferry selama 4 jam (kapal juga available hampir setiap jam).

Akhirnyaaaa, setelah 4 jam mati gaya diatas kapal, sampai juga di Pulau Lombok. Beruntung ada 2 teman (Firman & Andhika) yang baru saja turun dari Gunung Rinjani akan ikut menemani perjalanan saya ke Labuan Bajo. Kami bertemu di pelabuhan dan langsung melanjutkan perjalanan ke pelabuhan selanjutnya. Pak Selamet, guru sekaligus partner kami yang baik hati mengantarkan kami dari Pelabuhan Lembar ke Pelabuhan Khayangan (2,5jam).

Thankyou, Pak Selamet! : Kami berempat menuju Pelabuhan Khayangan.

Kira-kira jam 19.00 WITA kami tiba di Pelabuhan Khayangan (Lombok) dan siap menyeberang ke Pelabuhan Pototano (Sumbawa). Sejauh ini, kapal penyeberangan selalu ada setiap jam. Kami bertiga berpisah dengan Pak Selamet di pelabuhan Khayangan. Beristirahat sejenak, kemudian siap menyeberang pada jam 19.30 WITA, watu tempuhnya 1,5 jam. Selama penyeberangan, lagi-lagi kami mengumpulkan informasi rute dan transportasi menuju Labuan Bajo yang paling mudah. Tiba di Pelabuhan Pototano jam 21.00 WITA, sudah cukup malam dan sulit menemukan bus ke Sumbawa Besar pada malam hari. Kami memutuskan untuk ikut dengan salah satu travel lokal dari Pototano menuju terminal Sumbawa Besar, masih 2 jam lagi perjalanan untuk sampai di terminal.

(Optional : Bus malam dari Mataram - Sumbawa Besar/Bima).


Hari semakin larut, pukul 23.00 WITA kami tiba di Sumbawa Besar. Terminal disana sudah sangat sepi dan gelap, kami kehabisan bus. Kantor petugas terminal juga sudah tutup, bahkan toilet umum pun tutup. Beruntung ada beberapa warung kopi diseberang terminal yang buka hingga dini hari. Ibu pemilik warung dan beberapa pengunjung warung menginformasikan bahwa bus ke Bima tercepat akan tiba di Sumbawa Besar sekitar jam 02.00 WITA dini hari. Ya sudahlah, sambil menunggu sambil beristirahat toh kami bertiga juga sudah capek. 


Tips :
Hati-hati dengan calo bus di terminal. Memahami rute dan kisaran harga adalah bekal penting saat bepergian ala backpacker. Kami bertiga sempat ditawari beberapa opsi bus malam dan bus pertama yang berangkat subuh. Tentu saja, harganya jauh lebih mahal dari patokan harga acuan kami. Calo tidak akan menyerah dengan sekali penolakan. Hehehe. Lalu, bis umum di terminal Sumbawa Besar bentuknya sama seperti mini bus (bus bumel) di Jawa. Harganya murah tapi sering berhenti (ngetem), jadi lebih lama sampai di Bima. Bis yang lebih cepat adalah bis malam (bis besar), biasanya ber-AC dan harganya lebih mahal, tapi juga pasti lebih cepat sampai.



6 jam dari Sumbawa Besar menuju Bima
Bus besar terakhir yang kami tunggu terlambat, berangkat dari Sumbawa Besar pukul 04.30 WITA. Kami cukup kaget ternyata bus sudah penuh dengan bapak-bapak bersorban dan berpakaian jubah (apalagi cuma ada 2 perempuan termasuk saya dalam bus). Saya duduk di bangku paling depan dengan mbak-mbak disebelah supir. Perjalanan 6 jam dengan laju bus yang lumayan kencang dan jalan penuh tikungan. Membunuh waktu, saya ngobrol dengan penumpang disamping saya. Namanya Nisrina, mahasiswa STT Telkom yang pergi bersama satu lagi temannya, Moga. Ternyata kami sama-sama bertujuan ke Labuan Bajo. Dengan pertimbangan  cost dan lain sebagainya, kami sepakat untuk share trip bersama. Hemat beeb .. Hehehe.

Kami berlima akhirnya sampai di Bima, NTB. Bus kami stop sampai di terminal dan dilanjutkan dengan bus kecil ke Pelabuhan Sape (2jam). Pemandangannya bagus, membuat kami sedikit melupakan rasa capek selama perjalanan. Informasi terakhir dari google, kapal Ferry dari Sape - Labuan Bajo hanya ada sekali sehari dengan keberangkatan jam 09.00 WITA pagi. Misalnya memang harus stay  di pelabuhan malam ini tidak begitu masalah buat kami. Jam13.30 kami sampai di Sape.



Menyenangkan sekali, ternyata sejak bulan Juli 2014 kapal penyeberangan Sape-Labuan Bajo beroperasi 2x sehari (jam 09.00 WITA dan jam 16.00 WITA), jadi bisa langsung berangkat tanpa harus bermalam di pelabuhan. Kapal baru diberangkatkan jam 19.00 WITA, lama perjalanannya 7 jam. benar-benar kesempatan untuk tidur. Dini hari (jam 02.00 WITA) kami akhirnya sampai di Labuan Bajo (menunggu pagi, karena larut malam dan semua penginapan tutup, kami tidur di Masjid).


(Keyword Rute : Purabaya - Ketapang - Gilimanuk - Ubung - Padangbai - Lembar - Khayangan - Pototano - Sumbawa Besar - Bima - Sape - Labuan Bajo / Total Waktu : +- 42 jam)


Labuan Bajo



#Hari 1 : Pulau Padar - Pink Beach - Overnight near by Kampung Komodo

Selamat pagi Pulau Komodoooooo! Nggak  kebayang betapa senangnya saya akhirnya sampai di tanah Flores. Pagi-pagi sekali kami berkeliling mencari informasi boat sampai akhirnya menemukan yang paling oke. Setelah siap dengan segala keperluan, kami berangkat dari dermaga. Bersama kapten kapal, Pak Gogo dan asistennya Bang Ari kami siap mengelilingi Taman Nasional Komodo.

Kapal baru berjalan kira-kira 500 meter, saya sudah dibuat speechless. 2 jam perjalanan menuju Pulau Padar. Rasanya seperti sedang bersandar ditepi pulau pribadi. Tenang dan indah. Airnya jernih dan pasirnya berwarna pink. 

Pulau Padar siang itu jadi pulau pribadi kami.
Pulau Padar
Koral ini ternyata biangnya, yang bikin pasri jadi pink.


"Yuk kalau sudah puas disini, kita lanjut. Masih ada banyak pulau yang bagus", kata Pak Gogo. Naik ke atas kapal, ternyata kami tidak langsung berangkat. Ada makan siang perdana diatas kapal. Percayalah, apapun makanannya kalau diatas kapal dengan pemandangan seperti itu pasti lahap. Istimewa.


Dari Pulau Padar, kami lanjut ke Pink Beach, surganya underwater  disini. Point interest-nya adalah berbagai jenis ikan yang ada disini belum pernah saya lihat ditempat lain. Ikannya aneh-aneh (cuma berhasil dapat video saja). Koralnya, meskipun tidak se-colourful Pulau Menjangan, tapi tidak kalah cantik. Hingga hampir sunset kami menikmati Pink Beach yang menawan.

Merapat ke destinasi kedua : Pink Beach.









Bahagia itu hmm.... 

Takjub terlalu cepat dihari pertama. Tidak berlebihan ternyata saya memimpikan trip kesini. Ini surga. Bukan, gladi bersih sebelum masuk surga beneran, amiiiiin. Boleh saya lanjutkan? Iya, masih hari pertama. Kami lanjut menuju kawasan pulau utama, Pulau Komodo untuk bermalam di tepi Kampung Komodo (tidur di kapal itu menyenangkan). 


#Hari 2 : Komodo Island (Loh Liang) - Manta Point - Gili Lawa - Overnight Gili Lawa

Kebahagiaan saya masih berlanjut. Hari ini saya dan temen-teman bertemu dengan icon pulau ini, Sang Komodo Dragon. Bangun pagi ini jauh berbeda dengan pagi biasanya. Saat saya buka mata,  saya nggak  lihat tembok, yag dilihat laut lepas lengkap sama pembandangan pulau-pulau kecil dan sunrise. Ah, nggak  tau lagi harus ngomong  apa. Awesome? Indeed. Semakin asik lagi dengan sarapan pagi yang sudah disiapkan Bang Ari. Terima kasih, Bang Ari.

Ladies and Gentleman, welcome to Loh Liang - Komodo National Park. Ada lebih dari 2.000 ekor Komodo di Pulau ini. Sebenarnya, Komodo hidup di 4 pulau di kawasan Taman Nasional, yang paling terkenal adalah Pulau Komodo dan Pulau Rinca. Dibandingkan yang ada di pulau lain, Komodo di  Pulau Rinca relatif berukuran kecil tetapi paling ganas dan gesit. Sedangkan di Pulau Komodo (Loh Liang) ukuran Komodo lebih besar tapi lamban. Komodo dibiarkan hidup liar dan mencari makanannya sendiri disini. Babi hutan, ayam hutan, rusa, dan lain sebagainya merupakan fauna yang hidup berdampingan dengan komodo. Karena Komodo adalah binatang buas, setiap wisatawan wajib didampingi ranger.

Dari dermaga Pulau Komodo


The Komodo Dragon, umurnya kira-kira 50 tahun.


Kami berlima + ranger.
Oke, mari move on dari Pulau Komodo dan menuju Gili Lawa. Mampir sebentar di Manta Point (habitat ikan Pari berukuran sangat besar). Kami beruntung bisa melihat 2 ekor Manta saat itu. Umumnya, Manta banyak terlihat pada saat musim hujan. Setelah mndapatkan cukup rekaman video, kami lanjut ke destinasi berikutnya, Gili Lawa. Konon ceritanya, terdapat banyaaaak sekali lawa (kelelawar), tapi sekarang sudah jarang lawa yang bersarang disana. Gili Lawa menawarkan panorama yang sangat indah diatas dan dibawah laut. Kami naik ke atas bukit menanjak sekitar 20-30 menit hingga sampai di puncak.

Saya ingat, setahun lalu saya pernah membuat proposal perjalanan ke Flores untuk dipresentasikan kepada beberapa klien. Karena saya tidak punya dokumentasi probadi, saya ambil beberapa foto dari google. Ternyata foto favorit  yang saya jadikan halaman depan presentasi saya waktu itu adalah Gili Lawa, dan saat ini saya berdiri dengan mata kepala saya sendiri menyaksikan keindahannya. Awesome. Pau Nai Daku, Flores. Saya benar-benar jatuh cinta pada pulau ini.

otherside
Istimewa saat senja.

Puas dengan bukitnya, saya kemudian menikmati bawah lautnya. Karaktersitiknya hampir sama dengan dipulau-pulau lain disini, sangat menyenangkan. Kami menghabiskan malam ini di kapal, menuju pagi.

#Hari 3 : Kanawa Island - Bidadari Island - Labuan Bajo

Hari terakhir sailing Komodo. Saya masih menantikan kejutan-kejutan cantik disini. Hari ini kami mengunjungi Pulau Kanawa yang kini menjadi sebuah resort milik warga Italia. Dalam perjalanan, Pak Gogo bercerita, sudah banyak sekali kawasan di Labuan Bajo (termasuk TN Komodo) yang telah menjadi milik orang asing. Tidak dibeli, hanya dikontrak selama 75 tahun dan kemudian perpanjangan selama 75 tahun, begitu seterusnya. Agak sedih. Indonesia punya kita, tapi mereka tahu potensinya lebih cepat, mereka memanfaatkannya lebih cermat, kita justru sering terlambat. Kenawa memang punya view underwater yang indah. Resort-nya juga oke. Sayang sekali, jika tidak menginap di resort, kapal tidak boleh berlabuh ke dermaga, jadi saya harus berenang untuk sampai ke pulau.





Pulau Bidadari jadi pulau terakhir kami di TN Komodo, puas-puas deh snorkling-nya. Sama sekali tidak terasa ternyata kami sudah melewati 3 hari berkeliling disini. Berlama-lama di Pulau Bidadari, saya sepertinya tidak ingin mengakhiri trip ini.

(sampai nggak sadar kameranya kotor. hiks)






"Pak, saya nggak  mau pulang", pesan saya ke Pak Gogo saat kapal sudah harus jalan untuk kembali lagi ke Labuan Bajo. Padahal sudah 3 hari dan 2 malam di kapal, putar banyak pulau dan masih merasa kurang. Hehehe. Sebelum pulang, Pak Gogo dan Bang Ari masak makan siang spesial untuk kami. Berat hati, tapi memang tidak ada perjalanan yang tidak berakhir.


Kami berlima + Pak Gogo dan Bang Ari. Terima kasih banyak!

Tips :
Labuhan Bajo sangat terik saat cuaca cerah, bawalah sunblock atau semacamnya agar kulit tidak terbakar (jadi cokelat sih sudah pasti). Jika mabuk laut, sediakan antimo atau obat sejenisnya karena ombak cukup besar.
Kamera anti air adalah yang paling cocok dibawa untuk trip ini karena beberapa pulau kapal tidak bisa bersandar (harus berenang ketepian). Bawalah lebih dari 1 memory card. Percayalah, tidak akan cukup hanya dengan persediaan memory 16gb.

Closing Labuan Bajo ...


Setelah mendarat kembali di Labuan Bajo, kami menghabiskan waktu disalah satu resto favorit disini. Sengaja kami bertemu dengan Guru kami disini, Pak Agus Puka. Menikmati sunset sembari saling bercerita tentang perjalanan kami yang mengesankan. Malam hari sebelum kami semua saling berpisah dan melanjutkan perjalanan masing-masing, Pak Agus mengajak kami makan malam di Kampung Kuliner. Lokasinya tepat di depan dermaga sandar ferry. Seafood kesukaan kami semakin istimewa karena ditraktir Pak Agus dalam rangka merayakan hari ulang tahunnya yang baru saja lewat.


Para para .. paradise





Selamat ulang tahun, Pak Agus!

"Pulanglah dan ceritakan keindahan tempat ini ke teman-temanmu" 
- Pak Agus Puka-


(masih ada perjalanan ke Desa Waerebo dan Kelimutu di Part II ....)

ESTIMASI BUDGET

Share
Tweet
Pin
Share
73 comments

About me

About Me

Free Individual Traveller. Not a good writer, yet a story teller.

Sketching @_proyeksampingan |a Part of @Tukar_Cerita (Podcast)

Follow Me

  • Podcast
  • Instagram
  • Facebook
  • Soundcloud
  • Google +

recent posts

Blog Archive

Facebook Twitter Instagram Soundcloud


FOLLOW ME @INSTAGRAM



Created with by ThemeXpose | Distributed By Gooyaabi Templates